IkadiDIY.com

KOMITMEN MENJAGA KEMURNIAN TAUHID DI MASA KONTEMPORER

KOMITMEN MENJAGA KEMURNIAN TAUHID DI MASA KONTEMPORER

(Ikadi Bantul)_ Masa boleh berganti, waktu bisa berlalu, namun ternyata perbuatan syirik tetap bisa terjadi, hanya beda pelaku dan medianya. Di zaman modern, era kekinian, kontemporer, serba kemajuan ternyata masih saja muncul fenomena kesyirikan di tengah masyarakat. Inilah yang melatarbelakangi kajian Tauhid yang diusung oleh Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) kabupaten Bantul, Sabtu (13/11/2021) secara virtual dengan media zoom meeting, dengan narasumber ustadz H. Achmad Dahlan, Lc, MA.
Kitab Risalah Tauhid atau yang dinamakan juga Taqwiyatul Iman karya Al-Imam Asy-Syahid Isma’il Bin Abdul Ghani Ad-Dihlawi (1093-1246 H) dipilih sebagai kitab rujukan dalam forum kajian ilmiyah ini. Kitab yang ringkas, padat, penuh makna dan hikmah yang pada mulanya dikarang dalam Bahasa Urdu kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh Asy-Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi (1333-1420 H / 1914-1999 M).
Dalam pemaparannya, Ustadz Achmad Dahlan menyatakan bahwa di masa jahiliyah, orang-orang Makkah sudah mengenal Allah, sebab mereka adalah anak keturunan nabiyullah Ismail As. Namun dalam tataran praktek peribadatan mereka sudah menyimpang jauh. Mereka menyembah Allah namun juga menyembah selain Allah, yang berupa berhala dan patung. Mereka menjadikannya sebagai wasilah, perantara dalam taqarrub kepada Allah.
Di era kontemporer sebenarnya praktek kemusyrikan seperti yang dilakukan oleh masyarakat Jahiliyyah masih terjadi. Misalnya mereka yang mendatangi kuburan, tempat-tempak wingit (angker) dan dikeramatkan untuk meminta-minta orang yang meninggal atau danyang penunggu tempat tersebut. Perbuatan berdoa dan mengabdi kepada selain Allah termasuk dalam kategori syirik Akbar yang harus dijauhi. Selain itu, ada juga yang melakukan amaliyah tertentu yang seharusnya amaliyah itu hanya boleh dilakukan kepada Allah ta’ala, seperti sujud pada seseorang, mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah atau dengan menyebut nama selain Allah.
Ketua Ikatan Dai Indonesia kabupaten Bantul, Muhammad Hanafi, S.Ag, MSI menyampaikan bahwa tema akidah dipilih dalam kajian ini adalah untuk membentengi umat dari bahaya laten syirik. “ Jangan sampai umat terperosok ke dalam perilaku jahiliyah modern. Zaman sudah maju, teknologi berkembang pesat, namun pola pikirnya masih jahiliyah. Syirik kontemporer, syirik gaya baru harus terus diwaspadai. Urusan keyakinan harus dilandaskan pada dalil yang valid, shahih”, jelasnya.
Kajian dipandu oleh ustadz Lastiono, SE, MM, tilawah Al-Qur’an oleh ustadz H. Abdul Hafidz. Di sesi akhir dilakukan dialog dengan peserta kajian, untuk lebih mendalami materi kajian dan menghubungkannya dengan problematika kekinian. (Hanafi)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *