Yogyakarta — Tim Hisab Rukyat PW Ikadi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah melakukan perhitungan (hisab) awal bulan Syawal 1447 Hijriah dengan menggunakan metode Mathlaq Wilayatul-Hukmi yang berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Hasil hisab tersebut menjadi salah satu rujukan untuk memperkirakan kemungkinan penentuan Hari Raya Idulfitri tahun ini.

Berdasarkan hasil perhitungan, konjungsi atau ijtima’ terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB atau 09.23 WITA dan 10.23 WIT.
Perhitungan posisi hilal di beberapa titik wilayah Indonesia menunjukkan variasi ketinggian dan elongasi bulan. Di wilayah Sabang, usia bulan tercatat 10 jam 27 menit dengan lama bulan berada di atas ufuk selama 16 menit setelah matahari terbenam pada pukul 18.51 WIB. Tinggi hilal mencapai +03°38’19” (sekitar 3,66°) dengan sudut elongasi +06°06’47” (sekitar 6,18°).
Sementara itu, hasil hisab di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu Parangtritis, DIY menunjukkan usia bulan 9 jam 28 menit dengan lama bulan di ufuk 9 menit setelah matahari terbenam pukul 17.51 WIB. Tinggi hilal tercatat +02°10’33” (sekitar 2,21°) dengan elongasi +05°35’38” (sekitar 5,64°).
Adapun di wilayah Merauke, usia bulan tercatat 7 jam 27 menit dengan lama bulan di ufuk hanya 6 menit setelah matahari terbenam pukul 17.50 WIT. Tinggi hilal mencapai +01°22’41” (sekitar 1,43°) dengan sudut elongasi +04°33’45” (sekitar 4,62°).
Secara umum, hasil hisab di seluruh wilayah Indonesia menunjukkan tinggi hilal sudah berada di atas ufuk (positif). Jika menggunakan kriteria hisab hakiki wujudul-hilal dengan mathlaq wilayatul-hukmi yang dahulu digunakan oleh Muhammadiyah, maka 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Namun, kriteria tersebut kini telah ditinggalkan oleh Muhammadiyah yang beralih menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Di sisi lain, jika menggunakan kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS—yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat—hasil hisab di seluruh Indonesia belum memenuhi syarat tersebut. Hanya wilayah Sabang yang mendekati kriteria, dengan tinggi hilal 3,66 derajat, dengan sudut elongasi mendekati batas minimal yang ditentukan.
Lalu bagaimana kemungkinan keputusan pemerintah?
Selama ini pemerintah menetapkan awal Syawal melalui metode imkanur-rukyat dengan pengamatan hilal di berbagai titik di Indonesia. Berdasarkan data hisab, wilayah Sabang memiliki peluang hilal dapat terlihat. Sementara itu, di titik-titik rukyat lain di Indonesia, termasuk di POB Syekh Bela Belu Parangtritis, hilal tidak terlihat.
Apabila pada Kamis, 19 Maret 2026 hilal berhasil terlihat di wilayah Sabang, maka 1 Syawal 1447 H kemungkinan akan ditetapkan pada Jumat, 20 Maret 2026. Tanggal tersebut juga bertepatan dengan penetapan yang telah diumumkan oleh Muhammadiyah berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal.
Namun apabila hilal tidak terlihat di seluruh wilayah Indonesia, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari dan Hari Raya Idulfitri 1447 H berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
