IkadiDIY.com

DIANTARA RAMBU DAKWAH

DIANTARA RAMBU DAKWAH

Oleh: Ust. Endri Nugraha Laksana, S.Pd.I

 

HIDAYAH ADALAH WEWENANG ALLAH SWT SEPENUHNYA

Yang perlu difahami oleh para da’i adalah hidayah seseorang merupakan hak Allah SWT sepenuhnya. Manusia tidak dapat menentukan seseorang akan terbuka hatinya menerima hidayah Islam, atau tertutup hatinya.

 

Meskipun kapasitas ilmu sang da’i sangat tinggi dengan keshalihannya luar biasa, semua itu tidak kemudian menjamin bahwa dirinya akan mampu membuka hati manusia menerima hidayah.

 

Kisah wafatnya Abu Thalib menunjukkan bahwa Rasulullah saw sekalipun tidak mampu membuka hati seseorang untuk menerima hidayah. Tetapi Allah SWT yang mempunyai kunci hati manusia mempunyai hak sepenuhnya untuk memberikan hidayah kepada manusia.

 

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah saw menemuinya. Saat itu di sisi Abu Thalib ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah. Nabi saw  mengatakan pada pamannya ketika itu,

 

أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

 

Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

 

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata,

 

يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

 

Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muththalib?”

 

Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muththalib.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan :

 

لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ

 

Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

 

Kemudian Allah SWT menurunkan dua ayat. Firman-Nya :

 

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

 

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” (At-Taubah : 113)

 

Berikutnya Allah SWT berfirman :

 

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al-Qashash : 56)

 

Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

 

Seandainya Rasulullah saw memang mampu memberikan hidayah kepada manusia, pasti beliau akan memberikan hidayah kepada siapa saja yang dicintainya, seperti pamannya Abu Thalib. Tetapi, ternyata Abu Thalib menolak untuk mengikuti ajaran Muhammad saw dan lebih memilih mengikuti ajaran nenek moyangnya. Walaupun Rasulullah saw sudah berusaha membujuk pamannya untuk mengikuti ajarannya. Allah SWT sudah menjelaskan dalam firman-Nya :

 

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi” (Al-Qashash : 56)

 

Jika Rasulullah saw saja tidak mampu memberi hidayah kepada manusia, apalagi umat Rasulullah saw. Kita tidak mampu membuka pintu hidayah seseorang, karena hidayah itu sepenuhnya wewenang Allah SWT. Allah SWT menjelaskan dalam ayat di atas :

 

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 

“Tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al-Qashash : 56).

 

Tugas kita adalah menyampaikan hidayah dan berusaha menghantarkan manusia menuju pintu hidayah. Apakah kemudian mereka membuka hatinya untuk menerima hidayah atau tidak, itu sudah menjadi kekuasaan Allah SWT.

 

Sehingga, para da’i tidak perlu berkecil hati dan putus-asa jika manusia menolak ajakan kepada Islam, karena persoalan itu sudah bukan lagi wewenang manusia, tetapi sudah menjadi hak Allah SWT sepenuhnya. Tidak pula, seorang da’i merasa takabbur merasa dirinya mampu membuka hati seseorang untuk menerima hidayah. Jika ada manusia yang menyambut seruan kita, sebenarnya hal itu bukan karena kehebatan kita tetapi karena kehendak Allah SWT. Rasulullah saw manusia yang hebat saja tidak mampu membuka hati manusia, apalagi ummatnya seperti kita.

 

Wallaahu a’lam …

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *