IkadiDIY.com

Materi Khutbah Jumat Ikadi edisi 30072021 MELURUSKAN TAWAKAL KITA

MELURUSKAN TAWAKAL KITA

Oleh: Ust. Dwi Budiyanto, M.Hum.

(Kabid. Pelatihan dan Dakwah PW Ikadi DI Yogyakarta)

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini

Download MS Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالتَّوَكُّلِ وَحَثَّ عَلَى الْعَمَل، وَنَهَى عَنِ التَّوَاكُلِ وَحَذَّرَ مِنَ الْكَسَل، وَسَمَّى نَفْسَهُ الْوَكِيْل، فَهُوَ حَسْبُنَا وَمَوْلَانَا، فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ الْوَكِيْل.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، قَرِيبٌ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِين، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، سَيِّدَ اْلأَنْبِياَءِ وَإِمَامَ الْمُرْسَلِين.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّين.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهاَ الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاسْتَمْسِكُوْا بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى، قَالَ تَعَالىَ: ((وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاَقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ))

 

Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah.

Pandemi yang Allah hadirkan untuk kita hari-hari ini, sesungguhnya tidak sekadar menguji kesehatan dan perekonomian kita. Kesehatan memang yang paling pontang-panting menghadapi wabah ini. Disusul kemudian perekonomian yang memaksa banyak warga kita harus melipatgandakan kesabaran. Namun, selain menguji dua hal itu, sesungguhnya wabah ini juga menguji cara kita berpikir dan bersikap sebagai seorang muslim.

 

Ada di antara warga yang dengan enteng mengatakan, “Buat apa divaksin, toh tetap berpeluang terpapar virus juga!” atau “Prokas-prokes! Hidup mati itu di tangan Allah,” atau pernyataan-pernyataan sejenis yang menggambarkan sikap abai dan cenderung fatalis. Seakan-akan pernyataan-pernyataan itu benar, padahal di baliknya, ada kesalahan berpikir yang mesti dikoreksi. Di tengah kecemasan dan keputusasaan, seringkali seseorang melontarkan pernyataan yang tidak lahir dari keimanan yang kokoh dan cara pandang yang jernih dan sahih.

 

Berhadapan dengan wabah, tugas seorang muslim adalah menyempurnakan ikhtiar. Islam memerintahkan umatnya untuk mengikuti sunnatullah tentang hukum sebab dan akibat. Dalam persoalan menghadapi wabah, yang mengetahui ilmunya adalah para dokter, ahli epidemi, dan para tenaga kesehatan. Pada arahan merekalah kita mendasarkan ikhtiar agar terhindar dari infeksi virus, bukan pada sumber informasi yang tidak jelas dan tidak sahih.

 

 

Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah.

Dalam berhadapan dengan wabah, Islam mengajarkan untuk menyempurnakan ikhtiar. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu menuturkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا.

“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (H.r. Al-Bukhari)

 

Dalam konteks mencegah penyebaran Covid 19 yang tak terkendali ini, bentuk ikhtiar kita adalah berdisiplin dengan protokol kesehatan, memakai masker, menghindari kerumunan, menjaga jarak, melakukan vaksinasi, dan sebagainya. Jangan sampai menjadi muslim yang abai, bahkan cenderung menjadi penyangkal wabah. Sikap demikian jelas keliru. Mari kita renungkan perkataan Imam Ibn al-Jauzi dalam Minhaj al-Qashidin, “Bertawakkal harus disertai menjauhi sebab terjadinya kemudharatan. Maka, tidak boleh hukumnya tidur di tengah padang yang penuh binatang buas, di tempat aliran banjir atau di bawah dinding yang akan runtuh.”

 

Imam Ahmad pernah ditanya mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Orang yang duduk-duduk tersebut pernah berkata, ”Aku tidak mengerjakan apa-apa. Rizkiku pasti  akan datang sendiri.” Imam Ahmad lantas mengatakan, ”Orang ini sungguh bodoh. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda,

إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي

Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” (H.r. Ahmad)

 

Begitulah sikap para ulama mendudukkan secara tepat, bagaimana ikhtiar dan penyerahan diri kepada Allah Swt. ditempatkan secara proporsional. Jika ada binatang buas, menghindarlah. Jika naik kendaraan di jalanan menurun dan curam, injaklah rem. Jika sakit, berobatlah. Jika ada wabah, maka berhati-hatilah. Itulah bentuk ikhtiar yang mesti diupayakan. Imam Ahmad menyatakan, “Semua orang sudah seharusnya bertawakal kepada Allah, akan tetapi mereka harus mengiringinya dengan usaha.”

 

Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam Mukhtashar Minhaj al-Qashidin menuturkan, “Syariat memuji orang-orang yang bertawakal.” Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Dampak dari tawakal terlihat dari aktivitas seorang hamba dalam berusaha. Mereka berusaha mencari penghidupan atau menjaga yang sudah ada. Mereka juga berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang membahayakan atau diprediksi dapat membahayakannya. Mereka juga berusaha untuk menghilangkan bahaya, seperti berobat ketika sakit.” Bahkan, dengan keras beliau menyebut tindakan mereka yang enggan berusaha sebagai sikap orang-orang bodoh dan haram dalam syari’at.

 

 

Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah.

Setelah menyempurnakan ikhtiar, selebihnya mari kita bertawakal kepada Allah ta’ala. Dalam konteks tawakal kepada Allah itulah, sikap abai terhadap ikhtiar harus dikoreksi. Turut serta dalam program vaksinasi adalah salah satu bentuk menyempurnakan ikhtiar. Akan tetapi, jangan sampai kita bertawakal kepada ikhtiar. Sebab akibat memang sunnatullah. Belajar adalah sebab memperoleh ilmu. Berobat adalah sebab agar kembali sehat. Melakukan vaksinasi adalah sebab terhindar dari infeksi virus. Tetapi bukan sebab semata-mata yang menimbulkan akibat. Kadangkala, atas kehendak Allah, ada sebab tetapi tidak ada akibat. Nah, yang diperintahkan oleh syara’ dan sesuai dengan akal adalah mengusahakan sebab dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

 

Oleh karena itu, sekali lagi, seorang muslim tidak bertawakal kepada ikhtiar. Dari Perang Hunain, yang terjadi pada awal Syawal tahun delapan Hijriah, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapatkan pelajaran berharga. Awalnya, mereka mengandalkan jumlah pasukan yang banyak. Saat itu, kaum muslimin diperkuat dengan 12 ribu tentara (10 ribu orang kaum muslimin ditambah 2000 orang Quraisy yang baru masuk Islam). Allah berkehendak pasukan kaum muslimin kalah, meski jumlah mereka besar. Tentang hal ini Allah menggambarkan dalam Al-Quran.

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Dan (ingatlah) peperangan Hunain, ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu). Maka, jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, lalu kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. (Q.s. At-Taubah: 25)

 

Demikianlah, semestinya seorang muslim bersikap. Ikhtiar diperintahkan, tapi tidak boleh bertawakal kepada ikhtiar. Inilah yang membedakan seorang beriman dengan yang jauh dari iman. Keduanya akan sama-sama berusaha, tapi seorang mukmin akan bertawakal kepada Allah Swt., sedangkan mereka yang jauh dari iman akan bertawakal kepada ikhtiarnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

Akan masuk surga suatu kaum yang hati mereka seperti hati burung.
(H.r. Muslim).

 

Hati seperti burung (af-idatuth thair), sebagian ulama menuturkan, adalah hati yang senantiasa bertawakal kepada Allah ta’ala. Jangan kalah sama burung. Mari kita belajar dari burung. Dari Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.”  (H.r. At-Tirmidzi)

 

 

Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah.

Mari kita tunaikan kewajiban kita untuk menyempurnakan ikhtiar dalam menghadapi wabah ini. Disiplinkan diri dalam mematuhi protokol kesehatan, ikuti program vaksinasi, akses informasi yang sahih tentang wabah dari sumber-sumber terpercaya, jangan termakan hoaks dan jangan turut menyebarkannya, dan tingkatkan kepedulian kita untuk menolong sesama. Selebihnya, mari kita bertawakal kepada Allah Swt.

 

Hanya dengan bertawakal kepada Allah, kita akan mendapatkan ketenangan batin. Ketenangan itu tidak akan diperoleh dengan menyangkal kenyataan dari berita-berita yang mengabarkan jumlah pasien dan angka kematian akibat wabah. Ketenangan itu kita peroleh dari sikap tawakal yang benar kepada Allah Swt.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ في اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.

 

 

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَأَطِيْعُوْهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى.

ثُمَّ صَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْفَضْلِ الْكَبِيْر. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ:  ((إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً))

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَـجِيْد، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعَيْن، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنـِّكَ وَكَرِمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات.

اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُورِنَا.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ، وَاْلوَبَاءَ، وَالزَّلاَزِلَ، وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَا خآصَّة، وَسَائِرِ بِلاَدِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّء الْأَسْقَامِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَة، وَالْمُعَافَاةِ الدَّائِمَة، فِي دِيْنِنَا وَدُنْيَاناَ وَأَهْلِنَا وَمَالِناَ.

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

أَقِيْمُوا الصَّلَاة.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *