IkadiDIY.com

MUSIK SEBAGAI SARANA DAKWAH, BOLEHKAH? Bagian 1

MUSIK SEBAGAI SARANA DAKWAH, BOLEHKAH?

Oleh: Ust. Achmad Dahlan, Lc., MA.

Bagian 1

 

Pada era dimana manusia hidup dalam kemajuan teknologi di segala bidang, Islam dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan zaman, agar ajarannya tetap membumi dalam aktifitas keseharian manusia. Seorang yang berpegang dengan ajaran Islam di era ini, tidak harus merasa “diasingkan” dari realita kehidupannya, terutama yang berhubungan dengan pemanfaatan produk-produk modernitas yang tidak ditemukan pada zaman Nabi dan para shahabat. Oleh karena itu, beban terberat akan ditanggung oleh generasi muda yang hidup di zaman modern ini dan ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal ini disebabkan adanya salah persepsi yang menggambarkan seakan-akan Islam bertentangan dengan semua hal yang dianggap tren oleh anak muda. Semua ini menjadi tantangan para dai untuk memberikan penjelasan dan solusi yang tepat, otentik dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah dasar syariat Islam, agar Islam tetap menjadi rahmat di setiap tempat dan pada semua zaman.

 

Diantara hal yang menjadi bagian dari kehidupan kita di era modern ini dan hukumnya masih menjadi perdebatan dikalangan ulama adalah musik. Sebagai sebuah produk peradaban, musik sebenarnya sudah dikenal manusia sejak beribu-ribu tahun yang lalu dengan berbagai bentuknya, sesuai dengan tempat dan masanya. Bahkan suku paling terisolasipun mempunyai alat musiknya sendiri, sebagai bagian dari kebudayaan dan peradabannya. Akan tetapi, pada zaman dimana kita hidup ini, musik benar-benar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Musik ada di media-media elektronik seperti televisi dari radio, dalam film dan sinetron, dalam pementasan drama, opera, wayang, ketoprak, ludruk dan semua jenis hiburan panggung. Musik ada dalam telepon genggam, mainan anak-anak, klakson kendaraan dan hampir semua peralatan yang kita gunakan di rumah kita. Singkatnya, musik ada dimana-dimana dan tidak terpisahkan dari hidup kita.

 

Maka kemudian kita bertanya, bagaimana pandangan Islam mengenai musik? Apakah ia termasuk hal yang mubah ataukah haram? Bagaimana jika menjadikan musik sebagai sarana untuk berdakwah? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan merujuk kepada pendapat para ulama.

 

Sebelum masuk kepada pembahasan ilmiah mengenai hukum musik dan penggunaannya dalam dakwah, ada beberapa poin yang sebaiknya kita pahami, yaitu:

 

1. Bahwa dalam masalah hukum fikih, para ulama sejak dahulu sudah berbeda pendapat. Banyak sekali masalah-masalah yang diperselisihkan hukumnya oleh para ulama. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan tersebut seharusnya tidak menyebabkan perpecahan, saling benci, apalagi saling menganggap sesat dan mengkafirkan, jika orang-orang yang berselisih memahami dengan baik fiqh al-Ikhtilaf (fikih dalam berbeda pendapat) beserta adab-adab yang harus dilaksanakan.

 

Terdapat sebuah kaidah yang berbunyi:

 

لاَ إِنْكَارَ فِي مَسَائِل الاِجْتِهَاد

 

Yang artinya: “Tidak boleh saling mengingkari (menganggap sebagai kemunkaran) dalam masalah-masalah ijtihad”

 

Yang dimaksud dengan masalah ijtihad adalah hal-hal yang ulama boleh berbeda pendapat. Kaidah ini sangat penting untuk dijadikan sebagai pegangan bagi umat Islam, terutama mereka yang ingin mengetahui hukum Islam dalam berbagai masalah. Jika setiap kita mampu mengimplementasikan kaidah ini ketika berbeda pendapat, pastilah tidak ada truth claim (meng-klaim paling benar) dalam masalah-masalah yang diperselisihkan para ulama.

 

2. Sebagian orang berkeyakinan bahwa jika memilih atau mengikuti pendapat yang paling susah berarti lebih dekat kepada kebenaran. Ini adalah persepsi yang salah, dan bertentangan dengan karakteristik dari agama Islam. Justru dalam berbagai kesempatan Rasulullah menegaskan bahwa agama ini adalah agama yang mudah, dan sesiapa yang mempersulitnya akan kalah. Artinya, sifat dasar agama ini adalah mudah dilaksanakan dan tidak membebani manusia, tanpa harus memudah-mudahkan. Sangat banyak ayat dan hadis yang menegaskan prinsip ini, diantaranya:

 

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

 

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” [Al-Baqarah: 185]

 

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

 

“… Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama …” [Al-Hajj: 78]

 

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.

 

“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan . Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” [Hr. al-Bukhari]

 

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا.

 

“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berlah kabar gembira dan menakut-nakuti.” [Hr. Al-Bukhari dan Muslim]

 

4. Salah satu karateristik syariat Islam dan syariat Islam adalah Wasathiyyah (pertengahan). Maka seharusnya kita selalu berada dalam posisi tengah tersebut; tidak melebihkan dan tidak mengurangi. Tidak terlalu ketat, dan juga tidak terlalu longgar. Tidak mengharamkan segala hal, tidak juga menghalalkan semuanya. Sikap untuk selalu berada di pertengahan akan membuat Islam yang kita amalkan selalu mampu menghadapi tantangan-tantangan zaman yang baru.

 

5. Mengenai masalah hukum alat musik dan mendengarkan musik, tidak ada kesepakatan (ijma’) dikalangan ulama. Memang benar ada sebagian ulama yang meng-klaim bahwa ulama bersepakat mengenai haramnya musik seperti Ibn Shalah dan Ibn Hajar al-Haitami. Akan tetapi, klaim ijma’ itu tidak terbukti, karena dalam ijma’ disyaratkan semua ulama dalam suatu masa tertentu bersepakat mengenai hukum sesuatu. Padahal, kita menemukan ulama-ulama yang tidak sepakat dengan haramnya musik. Dalam hal ini, Imam asy-Syaukani menulis kitab kecil berjudul: إبطال دعوى الإجماع على تحريم مطلق السماع (sanggahan atas klaim adanya ijma’ mengenai haramnya mendengarkan musik). Akan kita temukan dalam tulisan ini nukilan dari Imam as-Syafi’i, al-Ghazali, Ibn Hazm dan ulama-ulama lain  yang membolehkan mendengarkan musik, akan tetapi dengan syarat-syarat tertentu.

 

6. Para ulama sepakat bahwa untuk mengharamkan sesuatu, haruslah dengan dalil yang shahih (otentik, valid) dan sharih (eksplisit, tersurat). Maka jika dalilnya masih diperselisihkan keshahihannya oleh para ulama atau substansi isinya ambigu dan multi tafsir, hal itu seharusnya tidak cukup kuat untuk menyimpulkan haramnya suatu perbuatan, benda, makanan maupun minuman. Karena dalam Islam, yang mempunyai hak untuk menghalalkan dan mengharamkan hanyalah Allah dan Rasul-Nya sebagai Syari’ (yang membuat syariat). Maka jika kita mengharamkan sesuatu yang halal, berarti kita menentang syariat Allah, sebagaimana menghalalkan yang haram juga demikian. Allah berfirman:

 

قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَاماً وَحَلاَلاً قُلْ آللّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللّهِ تَفْتَرُونَ، وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَشْكُرُونَ

 

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan (kedustaan) terhadap Allah?’ Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Yunus: 59-60)

 

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

 

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)

 

7. Kalau seandainya ada ulama yang berpendapat bahwa musik adalah hal yang mubah, jangan diartikan ia memotivasi orang untuk mendengarkan lagu-lagu yang mengajak kepada kemaksiatan, atau mengajak orang untuk mendengarkan musik. Karena pada dasarnya ia hanya mengembalikan hukum asal sesuatu sesuai dalil yang menurutnya benar dan layak diikuti. Bahkan, belum tentu ia mendengarkan musik, karena tidak semua orang melakukan hal yang mubah. Sebagaimana berwisata melihat pemandangan alam adalah hal yang mubah, tapi tidak semua orang melakukannya dengan alasan masing-masing. Maka sebaiknya kita tidak mudah memberikan tuduhan-tuduhan negatif, hanya karena seorang ulama berpendapat bahwa musik adalah mubah.

 

8. Dalam mengikuti pendapat ulama hendaklah kita menjadikan argumentasi dan dalil alasan mengikutinya, bukan semata-mata karena kita menyukai ulama tersebut, apalagi sampai bersikap fanatik dan  mengkultuskan, sehingga beranggapan bahwa semua pendapatnya benar. Fanatisme dalam mengikuti pendapat fikih akan menimbulkan perpecahan dan permusuhan di kalangan umat Islam.

 

Demikian beberapa hal yang perlu kita pahami sebagai pijakan awal membahas hukum musik yang akan kita bahas pada bagian kedua dari tulisan ini. Wallahu A’lam.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *