IkadiDIY.com

Naskah Khutbah Jumat 10 Mei 2024 Edisi 410, Ikadi DIY: PENTINGNYA MENJAGA KETAKWAAN KELUARGA

PENTINGNYA MENJAGA KETAKWAAN KELUARGA
Oleh: Ustadz Evan S. Perusa (Bidang Organisasi dan Keanggotaan, PW Ikadi DIY)

Download PDF Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

Download MS Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَنَا بِالْإِسْلَام، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَان، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِاتِّبَاعِ نَبِيِّهِ الْمُؤَيَّدِ بِالْقُرْآن

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إلَّا اللهُ العَلِيْمُ المَنَّان، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الهَادِي إلَى دِيْنِ الْاِسْلاَم. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْمِيْزَانِ. أَمَّا بَعدُ؛

فَيَا عِبَادَ الله، أُوصِيكُم وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَد فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: «يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ»

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt.,

Keluarga adalah institusi yang kecil dan sederhana dalam lingkup sosial masyarakat. Namun, keluarga memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai Islam yang terdapat dalam masyarakat. Sebab masyarakat yang robbani, yakni yang beriman kepada Allah, serta terjaga nilai-nilainya bermula dari keluarga-keluarga di dalam masyarakat yang senantiasa menegakkan keimanan kepada Allah Swt.

Karenanya Allah Swt. perintahkan setiap pemimpin keluarga untuk menjaga keluarganya dari api neraka. Allah Swt. berfirman:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَاىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.s. At-Tahrim: 6)

 

Ayat ini ditujukan kepada setiap muslim, agar senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal yang bisa menjerumuskan ke dalam api neraka. Namun, tidak hanya menjaga diri sendiri, terutama bagi seorang suami yang menjadi kepala keluarga, ia juga mempunyai kewajiban untuk mendidik keluarganya agar senantiasa berada di atas jalan yang diridhai Allah dan tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemunkaran. Hal ini ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib r.a., sebagaimana dikutip oleh at-Thabari dalam tafsirnya berkaitan dengan ayat di atas, bahwa makna dari memelihara diri dan keluarga dari api neraka adalah mengajar dan mendidik keluarga.

 

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي قَوْلِهِ: (‌قُوا ‌أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ) قَالَ: عَلِّمُوْهُمْ، وَأَدِّبُوْهُمْ

Dari Ali bi Abi Thalib Ra. mengenai firman Allah: “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”, Ali berkata: Ajarilah mereka dan didiklah mereka. (Tafsir ath-Thabari:  23/491)

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt.,

Setiap muslim tentu berharap keluarganya kelak dapat berkumpul di surga Allah Swt. Ia berharap agar setiap anggota keluarganya mampu menjaga diri dari kemaksiatan dan kemunkaran sehingga terhindar dari api neraka. Ia berharap mampu mewujudkan ketakwaan kepada Allah Swt. dan tidak menyekutukan-Nya di dalam keluarga. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang muslim untuk menjaga dirinya sendiri dan keluarganya agar terhindar dari api neraka.

Pertama, menguatkan keimanan dan ketakwaan dengan sungguh-sungguh kepada Allah Swt., baik untuk dirinya maupun keluarganya. Keluarga yang beriman kepada Allah akan senantiasa saling mengingatkan agar menjaga ketakwaan di antara mereka. Sebab sebaik-baik bekal yang hendak dibawa seorang manusia di dunia menuju akhirat hanyalah ketakwaan. Allah Swt. berfirman,

 

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

“Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Q.s. Al-Baqarah: 197)

 

Seorang ayah yang beriman akan menjaga dan menguatkan keimanan anak-anaknya kepada Allah Swt. karena itu adalah fitrah mereka. Allah telah menganugerahkan kesucian jiwa saat mereka dilahirkan. Kondisi ini harus dijaga dan ditingkatkan agar seorang anak yang lahir dengan fitrah yang suci tersebut dapat tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarganya sebagai seorang muslim yang lebih taat kepada Allah. Menjadi sebuah ironi, jika seorang ayah yang seharusnya menjadi pembimbing anak-anaknya justru mengacaukan keimanan mereka atau malah mengajak kepada kekufuran. Rasulullah Saw. bersabda,

 

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Kedua, mendidik dan memberi teladan akhlak mulia. Buah dari keimanan dan ketakwaan sebuah keluarga tercermin pada akhlak, perilaku, sikap, serta sopan santun terhadap anggota keluarga lain dan juga masyarakat. Sebab akhlak mulia yang terbentuk dari dalam rumah dan lingkungan keluarga akan membentuk masyarakat yang baik. Allah Swt. berfirman,

 

لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّـهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia,” (Q.s. Al-Baqarah: 83)

 

Keluarga yang senantiasa dididik dengan kelembutan, kasih sayang, saling menghormati dan bekerjasama dalam kebaikan akan dapat membangun masyarakat yang bermoral dan berkemajuan. Sebaliknya, ketiadaan teladan akhlak mulia dalam sebuah keluarga akan menyebabkan tercabutnya rasa kasih sayang dalam keluarga. Selain itu, sikap kasar pada anak-anak akan berdampak pada kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, apabila hendak memperbaiki suatu masyarakat, langkah awal yang harus dilakukan adalah memeriksa kembali bagaimana suasana pendidikan yang ada di dalam setiap keluarga.

Rasulullah Saw. berpesan agar setiap Muslim selalu menjaga akhlaknya,

 

اتَّقِ اللّهَ حَيْثُمَا كُنْت، وَأَتْبِعِ السَّيّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخاَلِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik‘” (H.r. At-Tirmidzi)

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt.,

Ketiga, senantiasa mendoakan kebaikan untuk keluarga. Jika kita berharap keluarga kita selalu berada dalam ketakwaan, mempunyai akhlak mulia dan terhindar dari api neraka, maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah mendoakan keluarga. Sebagaimana para nabi dan rasul yang mendoakan keluarga mereka. Allah Swt. mengisahkan di dalam Alquran bagaimana Nabi Ibrahim senantiasa mendoakan keluarganya agar menyembah Allah Swt. dan tidak terjerumus dalam kemusyrikan. Allah Swt. berfirman:

 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.” (Q.s. Ibrahim: 35)

 

Di dalam ayat lain, Nabi Ibrahim juga berdoa:

 

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku sebagai orang yang mendirikan shalat dan juga keturunanku. Ya Tuhanku, terimalah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang-orang mukmin di hari perhitungan.” (Q.s. Ibrahim 40-41)

 

Nabi Nuh juga terekam di dalam Alquran berdoa untuk bapak ibunya:

رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.” (Q.s. Nuh: 28)

 

Ayat-ayat ini menunjukkan betapa para nabi dan rasul begitu mengharapkan agar keluarganya dan orang-orang terdekatnya senantiasa beriman kepada Allah Swt. dan terhindar dari api neraka. Mereka merupakan teladan bagi setiap muslim, maka hendaknya kita dapat mengikuti mereka dengan senatiasa mendoakan kebaikan untuk keluarga kita.

Semoga kita semua, keluarga-keluarga kita, orang-orang terdekat kita, serta orang-orang mukmin senantiasa terjaga keimanannya dan terhindar dari api neraka.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ في اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Ke-2

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

«يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ»

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَكَرِيْمِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْن، وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ .

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ ذُنُوْبَناَ وَ لِوَالِدِيْناَ وَارْحَمْهُم كَمَا رَبَّوْناَ صِغَاراً

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّك، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّك، وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّك، اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِينِكَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاء، وَالْوَبَاء، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَن، وَسُوْءَ الْفِتَن، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَقِيْمُوا الصَّلاَة

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *