IkadiDIY.com

NIAT SEORANG MUKMIN LEBIH BAIK DARIPADA AMALNYA

NIAT SEORANG MUKMIN LEBIH BAIK DARIPADA AMALNYA

Syarah Hadis ke-1 dari Kitab al-Arbain an-Nawawiyyah

Oleh: Achmad Dahlan, Lc., MA.

 

 

عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  يَقُولُ: ” إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ (رواه البخاري ومسلم)

 

Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya, dan bahwa setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan yang dia niatkan”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh sebagian besar Mukharrij al-Hadis, diantaranya: al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dalam kitab Sunan mereka, Ahmad dan al-Humaidi dalam kitab Musnad mereka dll.

 

Hadis ini sering digunakan sebagai contoh hadis Gharib, yaitu hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu perawi di salah satu tingkatan sanadnya, ataupun di semua tingkatan sanadnya. Pada tingkatan shahabat, hadis ini hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu, demikian juga perawi sesudahnya yaitu ’Alqamah bin Abi Waqqash, dan perawi sesudah ’Alqamah yaitu Muhammad bin Ibrahim dan perawi sesudah Muhammad yaitu Yahya bin Said al-Anshari. Pada tingkatan setelah Yahya bin Said, hadis ini diriwayatkan oleh banyak sekali perawi hingga sampai para Mukharrij al-Hadis seperti yang telah disebutkan di atas. Ali bin al-Madini menyatakan bahwa tidak ada jalur periwayatan yang shahih selain jalur tersebut.

 

Keistimewaan Hadis

Hadis ini merupakan salah satu prinsip Islam yang sangat penting. Imam asy-Syafi’i berkata, “Hadis ini merupakan sepertiga ilmu dan masuk dalam 70 bab fikih”. Imam Ahmad juga menjadikan hadis ini sebagai salah satu dari tiga hadis yang menjadi poros ajaran Islam. Dua hadis yang lain yaitu hadis mengenai halal haram dan hadis tentang larangan berbuat bid’ah. Mengapa demikian? Karena amalan seorang muslim tidak terlepas dari dua hal; melaksanakan perintah atau menjauhi larangan. Hal ini sesuai dengan hadis tentang halal dan haram. Sedangkan syarat diterimanya amal adalah ikhlas karena Allah, -ini sesuai dengan hadis tentang niat-,  dan harus sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah, dan ini sesuai dengan hadis tentang bid’ah.

 

Sabab al-Wurud Hadis

Sebagian riwayat menyatakan bahwa latar belakang Rasulullah menyampaikan hadis ini adalah terkait dengan peristiwa seseorang yang masuk Islam dan berhijrah ke Madinah hanya karena ingin menikahi wanita yang dicintainya yang sudah terlebih dahulu berhijrah yang bernama Ummu Qais. Hal ini sebagaimana disebut dalam riwayat dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwa ia berkata, “Dulu dikalangan kita terdapat seorang laki-laki yang melamar wanita bernama Ummu Qais, namun Ummu Qais menolak menikah dengan laki-laki tersebut kecuali jika ia mau berhijrah. Orang tersebut pun berhijrah, kemudian menikah dengan Ummu Qais. Kami menamakan orang laki-laki tersebut orang yang berhijrah kepada Ummu Qais. “.

 

Akan tetapi, menurut al-Hafidz Ibnu Hajar tidak ada riwayat yang shahih mengenai hal tersebut. Beliau mengatakan dalam Fathul Bari 1/10, ”Hadis tentang niat tidak terjadi karena sebab kejadian orang yang berhijrah demi Ummu Qais. Dan saya tidak melihat satupun jalur shahih yang menyatakan tegas hal tersebut.”

 

Ibnu Rajab al-Hambali juga berkata: “Itu disebutkan oleh ulama-ulama khalaf di buku-buku mereka, namun saya tidak melihat landasannya dengan sanad yang shahih, wallahu a’lam.”

 

Dengan demikian, tidak dapat dipastikan bahwa yang melatar belakangi hadis ini adalah kejadian orang yang berhijrah karena Ummu Qais tersebut.

 

Makna ”Innama al-A’mal bi an-Niyyat”

Dari sisi bahasa, maksud dari sabda Nabi: ”Sesungguhnya setiap amalan dengan niat” mempunyai dua makna:

 

  1. Bahwa semua amalan itu pasti ada niatnya. Artinya, perbuatan apapun yang kita lakukan pasti diawali dengan niat dan maksud tertentu. Tidak ada perbuatan yang tanpa niat, kecuali jika perbuatan itu dilakukan tanpa sadar, seperti orang yang berjalan ketika tidur, atau orang yang melakukan perbuatan tertentu dalam keadaan mabuk.

 

  1. Bahwa suatu amalan diterima oleh Allah karena niatnya. Yaitu ketika seorang muslim melakukan suatu amalan, maka diterima atau tidaknya amalan itu tergantung kepada niat yang ada dalam hatinya.

 

Dari dua makna ini, kita bisa memastikan bahwa makna yang diinginkan oleh Rasulullah SAW adalah makna yang kedua. Karena makna yang pertama merupakan hal yang diketahui oleh semua orang, sehingga tidak ada manfaatnya Rasulullah menjelaskan hal tersebut. Dan sebagai Rasul yang menjadi wakil Allah dalam menyampaikan syariat Islam, Rasulullah tidak mungkin menyampaikan sesuatu yang tidak ada guna dan manfaatnya.

 

Dari pernyataan Rasulullah bahwa setiap amalan tergantung niatnya kita bisa memahami bahwa apapun yang kita kerjakan haruslah disertai dengan niat yang benar, yaitu mencari ridha Allah SWT. Hal ini membawa pemahaman yang lain, yaitu bahwa suatu perbuatan yang sama yang dilakukan beberapa orang yang berbeda akan mempunyai nilai yang berbeda di sisi Allah. Jika kita ilustrasikan ada empat orang yang sedang duduk mendengarkan ceramah di suatu masjid, maka keempat orang tersebut akan mendapatkan pahala yang berbeda, sesuai dengan tingkat keikhlasannya. Barangkali ada yang mendapatkan nilai sempurna, ada yang mendapatkan separuh, dan bahkan mungkin ada yang tidak mendapatkan pahala sama sekali. Ini semua tergantung dari niat dan keikhlasan hatinya dalam melaksanakan aktivitas tersebut.

 

Af’al at-Turuk Tidak Memerlukan Niat

Terdapat dua jenis perbuatan seorang muslim, yaitu melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Para ulama sepakat bahwa dalam melaksanakan perintah, seorang muslim harus mengawalinya dengan niat. Artinya, niat menjadi syarat diterimanya amalan yang berbentuk melaksanakan perintah. Contoh dari amalan jenis ini adalah melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji, bersedekah, menolong orang lain, berbakti kepada orang tua dll. Maka orang yang melaksanakan shalat, puasa dan amalan lain dari jenis melaksanakan perintah harus disertai dengan niat mencari ridha Allah ta’ala.

 

Sedangkan amalan yang disebut dengan Af’al at-Turuk (perbuatan meninggalkan larangan), maka menurut Jumhur Ulama hal itu tidak harus disertai dengan niat. Ketika seorang muslim tidak minum khamr, tidak berzina, tidak menyakiti orang lain, tidak mengambil harta yang bukan haknya dan perbuatan-perbuatan lain yang berupa meninggalkan larangan; dalam semua perbuatan tersebut ia tidak harus mempunyai niat dalam hatinya. Artinya, dia secara otomatis akan mendapatkan pahala dari Allah dengan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang tersebut, walaupun tidak ada niat dalam hatinya.

 

Fungsi Niat

Dalam Islam, niat mempunyai dua fungsi:

 

1. Untuk menentukan ibadah dan bukan ibadah.

Hal ini berkaitan dengan perbuatan yang mempunyai dua sisi; sisi ibadah dan sisi perbuatan biasa (dalam istilah para ulama disebut ‘Adah). Misalnya seorang ayah keluar rumah untuk mencari nafkah. Perbuatan mencari nafkah bisa bernilai ibadah dan bisa juga tidak bernilai ibadah. Dia akan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk mencari ridha Allah dengan melaksanakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang harus menafkahi keluarganya. Dan dia tidak akan bernilai ibadah jika sang ayah hanya berniat mengisi waktu luangnya saja, atau niat lain yang bukan karena Allah. Dengan demikian, di sini niat berfungsi untuk menentukan apakah perbuatan tersebut bernilai ibadah atau tidak.

 

2. Untuk membedakan suatu ibadah dengan ibadah yang lain.

Sebagaimana diketahui, sebagian ibadah bersifat wajib dan sebagian yang lain bersifat sunnah. Maka dengan niat, kita akan menentukan apakah ibadah yang kita lakukan tersebut berupa ibadah wajib ataupun sunnah. Demikian juga akan ditentukan apakah jenis ibadah sunnah yang kita lakukan. Contohnya, seseorang masuk masjid setelah azan subuh kemudian shalat dua rakaat. Bagi orang yang melihatnya, ia tidak akan tahu shalat apa yang dilakukannya. Bisa jadi ia melakukan shalat wajib, misalnya mengganti shalat subuh yang ia pernah lewatkan karena lupa. Ada kemungkinan ia melakukan shalat sunnah Tahiyyatul Masjid, atau shalat sunnah Qabliyyah Subuh, atau shalat sunnah taubat dan shalat sunnah yang lainnya. Untuk menentukan salah satu dari jenis ibadah tersebut, seorang yang melakukan shalat dua rakaat tersebut harus menentukan salah satu dari jenis ibadah shalat dua rakaat yang ada, baik bersifat wajib maupun sunnah.

 

Niat Sekunder

Dalam Islam, ibadah dibagi menjadi dua: Mahdhah dan Ghairu Mahdhah. Ibadah Mahdhah adalah ibadah ritual yang tata cara pelaksanaanya ditentukan oleh Rasulullah SAW. Ibadah jenis ini bersikap penghambaan yang murni kepada Allah. Contohnya adalah shalat, puasa, zakat, haji, umrah, membaca Al-qur’an, berdzikir dll. Dalam ibadah jenis ini, seseorang tidak boleh mempunyai niat ganda dalam melakukannya. Ketika seseorang shalat, ia tidak boleh berniat karena Allah dan berniat melakukan gerakan senam agar sehat. Ketika seorang melakukan sa’i dalam ibadah haji, seseorang tidak boleh berniat karena Allah sekaligus berniat melakukan jogging agar peredaran darahnya lancar. Ketika seorang berzakat, ia tidak boleh berniat karena Allah sekalian juga agar mendapatkan kedudukan dan respect dari masyarakat. Semua jenis ibadah ini merupakan ibadah Mahdhah yang tidak boleh ada niat sekunder di dalamnya. Seseorang harus ikhlas dan murni mempersembahkan ibadahnya tersebut kepada Allah agar memperoleh ridha-Nya.

 

Sedangkan ibadah Ghairu Mahdhah adalah semua jenis ibadah yang tidak ada ketentuan khusus dari Rasulullah mengenai tata pelaksanaannya. Kebanyakan ibadah ini merupakan aktivitas yang mempunyai keterkaitan dengan orang lain. Sebagian juga merupakan perbuatan mubah yang bernilai ibadah karena niatnya. Contoh dari ibadah jenis ini adalah: menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, makan dengan niat tertentu dll. Menurut para ulama, untuk ibadah jenis ini dimungkinkan adanya niat sekunder, yaitu niat lain selain mencari ridha Allah. Seseorang boleh berniat mendapatkan manfaat sosial atau keduniawian dari ibadah yang dilakukannya tersebut, selain mendapatkan ridha Allah ta’ala. Misalnya seorang mahasiswa yang belajar di sebuah universitas dan mengambil bidang arsitek. Ia menuntut ilmu dengan niat mencari ridha Allah dengan melaksanakan perintah untuk menuntut ilmu dan berharap suatu saat bisa berkontribusi untuk agama Islam dengan ilmu yang dimilikinya tersebut. Selain itu, ia juga boleh berniat mendapatkan manfaat duniawi dari dampak perbuatannya,  seperti mendapatkan penghidupan yang layak karena mempunyai keahlian untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Niat sekunder ini dimungkinkan karena jenis ibadah yang dilakukannya adalah Ghairu Mahdhah.

 

Niat Yang Bercampur Riya’

Ulama bersepakat bahwa amalan yang disertai Riya’ menjadi sia-sia dan tidak ada nilainya di sisi Allah. Riya’ adalah menampak-nampakkan amalan kepada manusia dengan tujuan supaya mendapatkan pujian dari mereka. Amalan apapun yang dilakukan dengan niat untuk mendapatkan pujian dari manusia maka menjadi tidak bernilai di sisi Allah.

 

Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Sejumlah generasi salaf berpendapat bahwa jika amal perbuatan dicampuri riya’, amal perbuatan tersebut batil. Di antara mereka yang berpendapat seperti itu ialah ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Abu Darda’, Al-Hasan al-Bashri, Sa’id bin Al-Musayyib, dan lain-lain. Saya tidak melihat ada perbedaan pendapat tentang masalah ini pada generasi salaf.”

 

Walaupun demikian, jika seseorang mengerjakan amal perbuatan dengan ikhlas karena Allah kemudian setelah itu orang lain memujinya dan ia merasa senang dengan pujian tersebut, hal itu tidak menghapuskan pahala amalnya, karena ia tidak pernah berniat untuk mendapatkan pujian tersebut, melainkan semata-mata mencari ridha Allah ta’ala.

 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah dalam sebuah hadis,

 

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنْ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ قَالَ تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِن (رواه مسلم)

 

“Dari Abu Dzar ia berkata: ”Ditanyakan kepada Rasulullah SAW: Bagaimana menurut anda mengenai seorang yang beramal kebaikan kemudian mendapatkan pujian dari manusia?” Rasulullah menjawab: ”Itu adalah kabar gembira permulaan bagi seorang muslim.” (HR. Muslim)

 

Niat Seorang Muslim Lebih Baik Daripada Amalnya

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir dijelaskan bahwa niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya,

 

عَنْ سَهْلِ بن سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ، وَعَمَلُ الْمُنَافِقِ خَيْرٌ مِنْ نِيَّتِهِ، وَكُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى نِيَّتِهِ، فَإِذَا عَمِلَ الْمُؤْمِنُ عَمَلًا نَارَ فِي قَلْبِهِ نُورٌ” . (رواه الطبراني)

 

“Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya, dan amal seorang munafik lebih baik dari niatnya, dan masing-masing beramal sesuai niatnya. Maka jika seorang mukmin melakukan suatu amalan, akan terpancar cahaya di hatinya.” (HR. Ath-Thabrani)

 

Walaupun hadis ini dari sisi sanadnya menurut sebagian ulama dinilai lemah, akan tetapi maknanya benar dan sesuai dengan  hadis yang lain. Penjelasan bahwa niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya adalah bahwa niat baik seorang mukmin bernilai pahala walaupun belum sempat diwujudkan dalam bentuk amalan. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

 

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً» (متفق عليه)

 

“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan”, kemudian Rasulullah menjelaskannya: “Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak. Jika dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu sebagai satu keburukan.” (Muttafaq Alaih)

 

Maka apabila seorang mukmin berniat untuk membangun sebuah masjid, dan ia benar-benar mempunyai keinginan untuk merealisasikannya, walaupun sampai akhir hayatnya ia belum sempat melaksanakan niat tersebut, disisi Allah telah dicatat baginya pahala membangun sebuah masjid. Dari sisi ini kita bisa memahami bahwa dalam beberapa kondisi, niat seorang mukmin menjadi lebih baik daripada amalnya.

 

Demikianlah beberapa penjelasan mengenai hadis pertama dari al-Arba’in An-Nawawiyyah, semoga menambahkan ilmu dan iman kita semua, Amin. Wallahu A’lam bis Showab.

 

Catatan: Video penjelasan mengenai hadis pertama al-Arba’in An-Nawawiyyah yang disampaikan oleh Ust. Achmad Dahlan Lc., MA. bisa disimak di tautan berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=5hFP0BD2W0Y

Materi dalam format PPT bisa diunduh di:

https://drive.google.com/file/d/1QYffTZkG2G2mqIALUZnAOwkMU1JEWbVz/view?usp=sharing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *