IkadiDIY.com

AL-AUZA’I, IMAM FIKIH NEGERI SYAM

AL-AUZA’I,  IMAM FIKIH NEGERI SYAM

Oleh: Achmad Dahlan, Lc., MA.

 

Nama dan Masa Kecil Al-Auza’i

Nama lengkapnya Abdurrahman bin Amr bin Yuhmid al-Auza’i as-Saibani asy-Syami ad-Dimasyqi. Nisbat al-Auza’i berasal dari tempat tinggalnya. Auza’ sendiri pada awalnya merupakan sekumpulan orang dari berbagai kabilah Arab dari Himyar (Yaman) yang berhijrah ke sebuah desa dekat Damaskus, sehingga tempat tersebut diberi nama dengan nama kabilah mereka. Sebagian berpendapat bahwa Imam al-Auza’i bukan berasal dari kabilah Auza’, akan tetapi dari Bani Saiban. Beliau tinggal di Auza’ sehingga nisbatnya disebut al-Auza’i.

 

Adapun ciri-ciri fisik beliau sebagaimana dijelaskan oleh para ahli sejarah adalah berperawakan tinggi, berkulit coklat dan mempunyai jenggot yang tipis. Di masa tuanya beliau menyemir rambutnya dengan hinna’ (daun pacar). Terkadang beliau memakai surban, dan pada saat yang lain memakai kopiah hitam.

 

Beliau lahir di Ba’labak (Lebanon) pada tahun 88 H, tumbuh di al-Biqa’ (Lebanon) dan kemudian berpindah ke Auza’ dekat dengan Damaskus (Syria). Di akhir hanyatnya beliau ikut berjuang menjaga perbatasan di Beirut hingga wafat di sana.

 

Beliau tumbuh sebagai anak yatim dan diasuh oleh ibunya; seorang wanita miskin tetapi mulia dan cerdas. Ia mendidik al-Auza’i dengan nilai-nilai ke-Islaman sedari dini. Sejak kecil, beliau telah terbiasa untuk berpindah dari satu  desa ke desa yang lain di al-Biqa’, dalam rangka mencari lingkungan yang baik dan guru-guru yang mumpuni. Hingga akhirnya keduanya sampai di Beirut di mana mereka bertemu dengan seorang syaikh yang pernah menjadi sahabat ayahnya. Beliau kemudian dididik oleh sahabat ayahnya tersebut.

 

Menuntut Ilmu Sejak Kecil

Beliau mengawali menuntut ilmu dengan belajar Al-Qur`an dan baca tulis di al-Kuttab atas arahan ibunya, dan kemudian belajar kepada seorang syaikh sahabat ayahnya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Sang guru inilah yang menanamkam kecintaan kepada ilmu dan cita-cita yang tinggi untuk meraih kedudukan yang mulia dalam  keilmuan Islam. Ia mengirimkan al-Auza’i ke kota al-Yamamah (saat ini masuk dalam wilayah Saudi Arabia, sebelah selatan Riyadh) untuk berguru kepada Yahya bin Katsir, seorang ahli hadis mumpuni pada zamannya. Beliau cukup lama berguru kepada Yahya bin Abi Katsir, sehingga menjadi salah satu gurunya yang paling banyak memberikan pengaruh terhadapnya.

 

Al-Auza’i pernah berkata: ”Ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Suatu hari aku bermain dengan anak-anak sebayaku, lalu lewatlah seorang syaikh sehingga anak-anak yang lain berlarian pergi ketika melihatnya. Hanya aku sendiri yang tetap berdiri di tempatku. Ia bertanya: ”Putra siapakah engkau ini?” Aku pun menyebutkan nama ayahku. Ia kemudian berkata: ”Engkau anak saudaraku. Semoga Allah merahmatinya.” Ia pun membawaku ke rumahnya, dan aku tinggal bersamanya hingga usia baligh. Ia memasukkanku ke Diwan (semacam madrasah) dan juga mengirimku untuk belajar ke al-Yamamah. Ketika kami sampai di al-Yamamah, kami masuk di Masjid Jami’. Ketika keluar, salah seorang temanku berkata: ”Syaikh Yahya bin Abi Katsir sangat kagum denganmu dan dia mengatakan: ” Aku tidak melihat dalam rombongan kalian yang lebih layak menuntut ilmu selain pemuda ini.” Maka aku pun mulai menuntut ilmu darinya dan aku menulis darinya 13 atau 14 jilid buku, dan semuanya terbakar.”

 

Dari Yahya bin Abi Katsir, al-Auza’i banyak belajar ilmu hadis selain ilmu-ilmu yang lain. Darinya juga beliau belajar kemuliaan akhlak. Yahya juga yang memotivasi al-Auza’i untuk pergi ke Basrah (Iraq) untuk berguru kepada al-Hasan al-Basri dan Muhammad bin Sirin, dua orang ulama tabi’in yang banyak menjadi rujukan. Akan tetapi al-Auza’i menunda-nunda perjalanannya karena masih ingin berguru kepada Yahya, hingga akhirnya ketika al-Auza’i sampai di Basrah, al-Hasan al-Basri sudah meninggal dan Ibnu Sirin sudah sakit parah di akhir hayatnya.

 

Dari Basrah al-Auza’i juga pergi ke berbagai kota untuk berguru dari para ulama. Di antara kota yang pernah beliau singgahi adalah Beirut, Makkah dan Madinah.

 

Ibadah dan Kemulian Akhlak Al-Auza’i

Imam al-Auza’i terkenal dengan budi dan akhlaknya. Beliau mempunyai hati yang sangat halus, sering menangis ketika shalat, berjiwa besar, sangat tawadhu’, mudah memaafkan, tidak banyak bicara, banyak berbuat kebaikan kepada orang lain, mudah bergaul, disukai banyak orang dan selalu berusaha untuk membantu orang lain walaupun dari kalangan non-Muslim.

 

Di antara hal yang dikenang oleh muridnya dan orang yang mengenalnya bahwa Imam al-Auza’i selalu menghormati tamu dan murid-muridnya dan selalu mengantar mereka keluar rumah saat selesai bertamu atau belajar darinya. Bahkan beliau rela menempuh perjalanan yang jauh bersama mereka.

 

Dalam interaksi dengan penguasa, terkadang beliau menerima pemberian mereka dan terkadang menolaknya. Dan apabila beliau mendapat pemberian dari para pembesar, beliau membagikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, sehingga orang mengenalnya sebagai seorang yang sangat dermawan.

 

Shadaqah bin Abdullah berkata: ”Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih pemaaf, lebih sempurna, dan lebih sabar atas hinaan yang diterimanya melebihi al-Auza’i.”

 

Dalam hal ibadah, beliau seorang ahli ibadah dan terkenal dengan kekhusyukannya dalam shalat. Selama hidupnya, ia terus menjaga hal ini hingga dikenal sebagai seorang yang selalu menjaga shalat wajib dan sunnah, Qiyamullail, zikir dan berhaji beberapa kali selama hidupnya.

 

Ayyub bin Suwaid berkata: ”Al-Auza’i ikut dalam rombongan menuju al-Yamamah.  Sesampainya di sana, mereka masuk masjid. Al-Auza’i segera menuju salah satu tiang masjid dan melaksanakan shalat. Ketika itu, Yahya bin Abi Katsir duduk di dekatnya. Yahya terus memperhatikannya, dan kemudian berkata: ”Alangkah mirip shalat pemuda ini dengan shalat Umar bin Abdul Aziz.”

 

Shalat Umar bin Abdul Aziz sendiri sangat dipuji oleh Imam Malik bin Anas. Beliau berkata: ”Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam yang shalatnya lebih mirip dengan shalat Rasulullah Saw. daripada shalatnya imam kalian ini (Umar bin Abdul Aziz).”

 

Al-Walid bin Muslim pernah berkata: ”Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dari al-Auza’i.” Ia juga berkata: ”Aku melihat al-Auza’i tetap duduk di tempat shalatnya untuk berzikir hingga terbit matahari.”

 

Uqbah bin Salamah berkata: ”Aku bertemu al-Auza’i berangkat shalat Jumat di pintu masjid dan aku mengucapkan salam kepadanya. Ketika masuk, aku mengikutinya. Ia pun melaksanakan shalat, dan aku menghitung jumlah rakaat shalatnya sebanyak 43 rakaat hingga datangnya imam. Berdirinya, rukuknya dan sujudnya, semuanya dilakukan dengan khyusuk.”

 

Abu Mus’hir berkata: ”Al-Auza’i tidak pernah terlihat menangis ataupun tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Tetapi terkadang beliau tersenyum, seperti yang dilakukan oleh Nabi. Ketika malam hari, beliau menghidupkan malamnya dengan al-Qur`an dan tangisan.”

 

Keberanian Al-Auza’i dalam Kebenaran

Al-Auza’i mempunyai keberanian yang melebihi kebanyakan orang. Beliau beberapa kali ikut berperang di perbatasan untuk mempertahankan wilayah kekhilafahan Islam. Bahkan beliau wafat ketika sedang menjaga perbatasan di Beirut. Keberaniannya dalam membela kebenaran juga terlihat dalam beberapa peristiwa bersama para penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah. Beliau berani menyatakan yang benar itu benar dan salah itu salah tanpa ragu dan tanpa kenal rasa takut. Seakan-akan beliau ingin menunjukkan kepada umat bagaimana seharusnya seorang ulama bersikap di depan para penguasa. Jangan sampai ulama menjadi kaki tangan dan corong penguasa menghadapi rakyat untuk menutupi kezaliman mereka.

 

Beliau hidup di zaman transisi antara Daulah Umawiyyah dan Daulah Abbasiyyah. Terhadap kedua kekhilafahan itu, al-Auza’i selalu bersikap tegas dan berani menyampaikan kebenaran, apa pun resiko yang diterimanya. Sikap ini ternyata membuatnya disegani para penguasa. Maka Hisyam bin Malik pun pernah mengutusnya untuk berdebat dengan kelompok Qadariyyah. Abu Ja’far al-Manshur pernah mendatanginya dengan kebesaran dan sikap angkuhnya, akan tetapi akhirnya ia pun mendengar dan mau menerima nasihat al-Auza’i.

 

Dalam beberapa kesempatan, beliau juga menulis surat kepada para pejabat untuk menasihati mereka atas kesalahan dan penyimpangan yang mereka lakukan. Tercatat beliau pernah menulis surat kepada Abu Ja’far al-Manshur;  khalifah Daulah Abbasiyyah, Shalih bin Ashim; gubernur Syam, Ibnu Azraq; menteri pajak dan beberapa pejabat yang lain.

 

Keilmuan Al-Auza’i

Membahas keilmuan al-Auza’i memerlukan penjelasan yang panjang. Para ulama dan kaum muslimin  pada zamannya dan zaman sesudahnya mengakui kelimuan beliau. Tingkat keilmuan beliau bisa disejajarkan dengan para pendiri madzhab fikih seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Luasnya ilmu al-Auza’i bisa dilihat dari beberapa sisi:

 

1. Usaha yang beliau curahkan untuk menuntut ilmu. Beliau mulai menuntut ilmu di usia yang sangat belia, dan terus belajar dari berbagai guru di berbagai penjuru dunia Islam pada masanya. Tercatat beliau berguru kepada ratusan syaikh di Syam, Makkah, Madinah, al-Yamamah, Bashrah, Kufah. Dan setiap kali berhaji beliau menemui para ulama yang datang dari berbagai wilayah Islam. Dengan demikian, beliau telah berhasil menggabungkan berbagai ilmu dari para ulama dari seluruh penjuru jazirah Arab.

 

2. Hafalan dan periwayatan hadisnya serta perannya dalam ikut serta meletakkan dasar Ilmu Musthalah al-Hadits dan al-Jarh wa at-Ta’dil. Beliau dikenal sebagai seorang perawi yang kuat hafalannya, teliti dalam meriwayatkan hadis dan tidak meriwayatkan hadis dari semua orang, akan tetapi hanya dari guru-guru pilihan yang hadisnya shahih. Dalam meriwayatkan hadis, beliau bergantung kepada hafalannya yang kuat. Walaupun demikian, beliau tidak anti terhadap penulisan hadis, dan bahkan sejak awal juga menuliskan periwayatannya, walaupun sebagiannya kemudian terbakar.

 

Imam adz-Dzahabi mengatakan: ”Hadis-hadis al-Auza’i yang Musnad (bersambung sanadnya sampai Nabi) berjumlah sekitar seribu hadis. Adapun hadis yang Mursal (yang terputus sanadnya di akhir sanad) dan yang Mauquf (hadis yang dinisbatkan kepada shahabat) berjumlah ribuan.”

 

Dalam Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil, beliau dikenal sebagai ahli hadis yang meneliti dan menilai para perawi hadis, sehingga penilaiannya dijadikan sebagai rujukan dan dapat kita temukan dalam kitab-kitab Rijal al-Hadits (kitab mengenai biografi dan kedudukan para perawi hadis). Beberapa kutipan penilaian beliau terhadap perawi hadis di antaranya:

 

”Telah meninggal Atha’ bin Abi Rabah pada hari kematiannya dan dia adalah orang yang paling diterima oleh semua ahli hadis.”

”Tidak ada seorang tabi’in yang hidup pada masa kekhilafahan Hisyam bin Abdul Malik yang lebih faqih daripada Ibnu Syihab az-Zuhri.”

”Ismail bin Abdullah, seorang perawi yang amanah terhadap apa yang ia riwayatkan.”

”Catatan al-Walid bin Mazad semuanya benar.”

 

Dalam ilmu Musthalah al-Hadits, beliau juga mempunyai kontribusi dengan meletakkan beberapa kaidah yang disampaikan secara lisan dan dikutip oleh para penulis dalam ilmu tersebut. Di antara beberapa kutipan dari al-Auza’i dalam ilmu Musthalah al-Hadits:

 

”Sebab hilangnya ilmu adalah hilangnya sanad.”

”Perumpamaan orang yang menyalin periwayatan gurunya kemudian tidak membacakan di depannya (untuk mengoreksi kesalahannya) seperti orang yang buang air kemudian tidak bersuci.”

”Memberi syakal (harakat) adalah cahaya bagi tulisan.”

”Ambillah hadis dari orang yang engkau yakin dan ridha kepadanya.”

Muhammad bin Katsir berkata: ”Aku bertanya kepada al-Auza’i mengenai seseorang yang meriwayatkan hadis dari gurunya dengan membaca kitabnya, apakah dia harus mengatakan ”Haddatsana (telah menceritakan kepada kami)?” Beliau menjawab: ”Ia mengatakan seperti yang dilakukannya, yaitu ”Qara`tu (aku membaca kepada guruku).”

 

3. Penguasaannya dalam ilmu fikih sehingga beliau dianggap salah satu imam madzhab fikih yang diikuti. Madzhab al-Auza’i bertahan sekitar 200 tahun di negeri Syam dan sekitarnya sebelum akhirnya hilang. Bahkan Ibnu Hajar mengutip dari al-Qurthubi, seorang ulama Andalus (Spanyol) bahwa madzhab yang diikuti hingga tahun 206 H di Andalus adalah Madzhab al-Auza’i, sebelum akhirnya mereka berpindah ke Madzhab Maliki hingga hari ini. Hilangnya Madzhab al-Auz’ai dikarenakan kurangnya usaha yang dicurahkan para muridnya untuk melestarikan dan menyebarkannya. Selain itu, para muridnya juga lebih concern terhadap ilmu hadis daripada ilmu fikih. Di sisi lain, para murid madzhab yang lain seperti Maliki dan Syafi’i mencurahkan usaha yang luar biasa untuk terus menjaga dan membesarkan madzhab mereka. Sebab yang lain adalah faktor kekuasaan yang memilih suatu madzhab dan menjadikannya sebagai paham resmi yang dianut oleh sebuah pemerintahan dan wajib diikuti oleh masyarakat. Dalam konteks ini, Madzhab al-Auza’i sempat menjadi madzhab resmi di Andalus sebelum akhirnya para penguasa tidak lagi memilihnya sebagai madzhab resmi negara.

 

Kepakarannya dalam ilmu fikih didapatkan dari para ulama tabi’in seperi Atha’ bin Abi Rabah, Ibnu Syihab az-Zuhri, Rabi’ah ar-Ra’yi, Mak-hul dll. Bahkan sejak berumur 25 tahun beliau sudah dimintai fatwa. Dan sejak itu hingga 40 tahun sesudahnya saat beliau meninggal, beliau menjadi salah seorang mufti yang menghasilkan lebih dari 80 ribu permasalahan fikih yang diriwayatkan oleh para muridnya. Maka beliau dikenal sebagai ahli fikih negeri Syam pada zamannya dan bisa disejajarkan dengan para imam madzhab fikih lainnya.

 

Yahya bin Sa’id al-Qaththan berkata: ”Suatu saat, ada tiga orang ulama berkumpul di rumah Imam Malik bin Anas. Mereka adalah al-Auza’i, Sufyan ats-Tsauri dan Abu Hanifah. Aku kemudian bertanya kepada Malik: ”Siapakah yang paling banyak ilmunya di antara ketiganya?” Imam Malik menjawab: ”Al-Auza’i paling unggul di antara mereka.”

 

Al-Hafidz Abu Ya’la al-Khalili berkata: ”Al-Auza’i telah menjawab 80 ribu permasalahan fikih dengan hafalannya.”

 

Jika ada pertanyaan, mengapa 80 ribu masalah fikih yang merupakan pendapat al-Auza’i, hanya sebagian saja yang kita temukan dalam literatur fikih? Jawabannya, ada beberapa faktor yang menyebabkan hilangnya sebagian besar ilmu al-Auz’ai dalam masalah fikih, diantaranya:

 

  1. Murid-murid al-Auza’i tidak menuliskan masalah-masalah fikih tersebut dalam buku dan cukup hanya meriwayatkannya secara lisan. Dengan berjalannya waktu, ketika orang tidak lagi mengikuti madzhab ini maka pendapat-pendapat imam madzhabnya juga ikut hilang.
  2. Kurangnya usaha para muridnya untuk mengembangkan dan menyebarkan madzhab tersebut.
  3. Karena tidak ada catatan tertulis, seiring waktu para pengikut madzhab hanya memilih beberapa permasalahan yang relevan atau mereka butuhkan, sehingga sebagiannya menjadi hilang.
  4. Faktor lain yang membuat turats (warisan) ilmu Islam hilang atau berkurang secara umum, seperti konflik politik, penghancuran dari musuh Islam, seperti dalam dalam sejarah runtuhnya Khilafah Abbasiyyah di Baghdad, dll.

 

4. Kiprah beliau dalam mengajarkan ilmunya dengan periwayatan hadis, berfatwa dan menjelaskan hukum fikih kepada masyarakat. Dengan kepakarannya dalam bidang hadis dan fikih, al-Auza’i terus mengabdikan dirinya untuk agama Islam dengan mengajarkan kedua ilmu tersebut kepada murid-muridnya. Hingga saat ini, kita masih bisa melihat ilmu al-Auz’ai bertebaran dalam khazanah keilmuan Islam. Dalam bidang hadis, kita dapat melihat kiprah al-Auza’i melalui hadis-hadis shahih yang beliau riwayatkan dan terdokumentasikan dalam kitab-kitab hadis primer seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud dll. Sedangkan dalam masalah fikih, fatwa dan pendapat fikih beliau dikutip dalam buku-buku fikih seperti al-Mughni, al-Majmu’ dll.

 

Berikut ini beberapa masalah fikih menurut madzhab al-Auza’i. Ini hanya merupakan sedikit contoh dari banyak masalah yang bisa kita temukan dalam buku-buku fikih komparatif:

 

  1. Makruh hukumnya bagi muadzin untuk berbicara di tengah-tengah adzan.
  2. Cara untuk shalat bagi orang yang tidak mempunyai kain untuk menutup auratnya yaitu dengan duduk tanpa rukuk dan sujud. Gerakan-gerakan shalat dilakukan dengan isyarat.
  3. Qunut dalam shalat Subuh hukumnya sunnah.
  4. Orang yang salah kiblat harus mengulang shalatnya. Jika ia mengetahui kiblat yang benar di tengah shalat, maka ia harus memulai shalatnya dari awal.
  5. Mengangkat tangan dalam takbiratul ihram hukumnya wajib, jika ditinggalkan maka shalatnya tidak sah.
  6. Orang yang berbicara dalam shalat karena lupa atau tidak tahu sah shalatnya.
  7. Hukum shalat jamaah adalah fardhu ‘ain bagi laki-laki, akan tetapi bukan menjadi syarat sahnya shalat.
  8. Sujud sahwi lebih utama dilakukan sebelum salam, baik sujudnya karena kelebihan rakaat atau kekurangan rakaat.
  9. Jika imam lupa sujud sahwi, maka makmum boleh sujud sendiri setelah imam salam.
  10. Jika seorang musafir berniat untuk tinggal di suatu tempat lebih dari 12 hari, maka ia tidak boleh meng-qashar shalat. Jika berniat tinggal kurang dari itu, boleh meng-qashar shalat.

 

5. Debat-debat ilmiah yang beliau lakukan melawan beberapa imam madzhab. Juga perdebatan beliau dalam bidang akidah melawan kelompok-kelompok akidah yang menyimpang. Beberapa debat tersebut terdokumentasikan dalam bentuk riwayat dalam kitab-kitab hadis dan sejarah, di antaranya:

 

  1. Debat beliau dengan Imam Abu Hanifah, diriwayatkan dalam Musnad al-Haritsi.
  2. Debat beliau dengan Sufyan ats-Tsauri, diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Ibn Asakir.
  3. Debat beliau dengan Imam Malik, diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Ibn Asakir.
  4. Debat beliau melawan Ghailan bin Abi Ghailan, seorang pengikut Qadariyyah, diriwayatkan oleh Abu Nuaim al-Ashbahani dalam Hilyah al-Auliya`.

 

6. Karya-karya tertulis dalam berbagai bidang ilmu. Akan tetapi, sebagian besar karya tersebut hilang manuskripnya dan tidak kita temukan pada zaman sekarang. Di antaranya:

 

  1. Musnad al-Auza’i, disebutkan oleh Haji Khalifah dalam Kasyf adh-Dhunun dan Ibnu Hajar dalam al-Mu’jam al-Mufahras.
  2. As-Sunan fi al-Fiqh, disebutkan oleh Ibn Nadim dalam Fihrist.
  3. Al-Masa’il fi al-Fiqh, disebutkan oleh Ibnu Nadim dalam Fihrist, Az-Zirikli dalam al-A’lam dll.
  4. Kitab as-Siyar, satu-satunya karya al-Auza’i yang manuskripnya sampai kepada kita. Berisi tentang hukum jihad, rampasan perang, interaksi dengan kafir harbi dll.

 

Wafatnya Al-Auza’i

Uqbah bin Alqamah, salah seorang murid al-Auza’i menceritakan hari terakhir ia bersama dengan beliau: ”Hari terakhir aku menimba ilmu dari al-Auza’i yaitu pada malam hari di mana besoknya beliau meninggal. Ketika itu, seorang muadzin yang merdu suaranya sedang mengumandangkan adzan, kemudian al-Auza’i berkata: ”Alangkah merdu suaranya. Telah sampai kepadaku kisah Dawud  ‘Alaihissalam bahwa apabila beliau mulai memainkan serulingnya, binatang-binatang buas dan burung-burung berkumpul di sekitarnya hingga mati kehausan. Seandainya seruling itu diperdengarkan di dekat sungai, pastilah sungai itu akan berhenti mengalir.” Kemudian beliau diam sejenak. Setelahnya beliau berkata: ”Semua urusan yang tidak disebut akhirat di dalamnya, tidak ada kebaikan padanya.” Kemudian kami melaksanakan shalat, dan itulah momen terakhir aku melihatnya.”

 

Para ahli sejarah menceritakan bahwa al-Auza’i meninggal pada bulan Safar tahun 157 H karena menghirup asap dalam pemandian air panas. Sebagian riwayat menceritakan bahwa ia meninggal di pemandian air panas umum, dan sebagian lain mengatakan bahwa ia meninggal di pemandian rumahnya. Diceritakan bahwa istrinya menyiapkan bara untuk memanaskan air yang digunakan al-Auza’i untuk mandi di hari yang dingin. Secara tidak sengaja, ia mengunci pintu dari luar. Ketika bara semakin besar dan asapnya memenuhi kamar mandi, al-Auza’i berusaha keluar akan tetapi tidak bisa karena pintunya terkunci dari luar. Beliau kemudian ditemukan dalam keadaan berbaring dengan menjadikan tangannya sebagai alas dan menghadap kiblat.

 

Bagaimana pun cara kematian seorang ulama, hal itu tidak akan mempengaruhi kedudukannya di sisi Allah. Karena setiap kita tidak tahu di mana dan dengan cara apa akan meninggal. Apa yang beliau tinggalkan berupa khazanah ilmulah yang akan tetap dikenang dan menjadikannya mendapatkan kedudukannya di sanubari umat Islam. Bagaimana pun juga, beliau tetap seorang al-Auza’i, yang sebagaimana disebutkan oleh Salamah bin Said: ”Beliau adalah seorang imam yang patut diikuti.”

 

Rahimahullah rahmatan wasi’ah, wa adkhalahu fasiha jannatih, wa nafa’ana bi ulumihi fi ad-darain. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas, memasukkannya ke dalam surga-Nya, yang memberikan manfaat kepada kita dengan ilmunya di dunia dan akhirat, Amin.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *