IkadiDIY.com

Naskah Khutbah Jumat 8 Oktober 2021, Edisi 274, Ikadi DIY: OPTIMISLAH SAAT SEGALA URUSAN TERASA SULIT

OPTIMISLAH SAAT SEGALA URUSAN TERASA SULIT

Oleh: Ust. Ahmad Sumiyanto, M.SI.
(Majelis Syuro PW Ikadi DIY)

  

Download PDF Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

Download MS Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

   

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ فَرَّجَ هَمَّ الْمَهْمُوْمِيْن، وَنَفَّسَ كَرْبَ الْمَكْرُوْبِيْن، وَقَضَى الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِيْنِيْن.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، رَبُّ الْخَلَائِقِ أَجْمَعِيْن،  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، قُدْوَةُ الْمُؤْمِنِيْنَ الصَّابِرِيْن، وَإِمَامُ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْن.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُم إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

 أَمَّا بَعْدُ؛

 فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: ((يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ))

 

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah

Allah telah menetapkan bahwa dunia adalah tempat ujian bagi manusia. Tidak ada yang selamat dari ujian dunia, baik seorang pemimpin atau rakyat, kaya atau miskin, kuat atau lemah, mukmin atau kafir. Semua orang tanpa terkecuali akan mendapatkan ujian dari Allah ta’ala. Bahkan para Nabipun mendapatkan ujian dari Allah. Nabi Adam diuji dengan buah Khuldi. Nabi Nuh diuji dengan putra yang tidak mau patuh kepadanya. Nabi Luth diuji dengan istri yang ingkar. Nabi Musa dibuang sejak bayi, dan ketika dewasa terusir dari tanah kelahirannya selama sepuluh tahun. Nabi Yusuf dilempar oleh saudara-saudaranya sendiri ke dalam sumur hingga terpisah dari keluarganya berpuluh tahun. Ia juga harus merasakan dinginnya penjara untuk perbuatan yang tidak ia lakukan. Semua manusia pasti mendapatkan ujian dari Allah ta’ala,  karena dunia adalah Darul Bala’, negeri ujian. Allah berfirman,

 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

”Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.s. Al-Mulk: 2)

 

Allah juga berfirman,

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.s. Al-Baqarah: 155).

 

Ujian dan cobaan dalam hidup di dunia terkadang berupa kelapangan dan kenikmatan, namun terkadang juga berupa kesempitan dan musibah. Ada yang mendapatkan ujian dengan tubuh yang sehat, ada pula yang diuji dengan penyakit. Sebagian mendapatkan cobaan berupa kekayaan, dan sebagian yang lain dicoba dengan kemiskinan. Pada dasarnya, kondisi apapun yang kita temui dalam kehidupan adalah bagian dari ujian Allah. Dalam menghadapi ujian berupa kenikmatan, seseorang dianggap lulus apabila ia mampu bersyukur dan menggunakan kenikmatan tersebut sesuai ajaran Allah dan dalam rangka beribadah kepada Allah. Dan dalam menghadapi ujian berupa musibah, seseorang dianggap berhasil apabila mampu bersabar dan tetap komitmen dengan syariat Allah, seberat apapun keadaan yang dihadapinya. Allah berfirman,

 

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
(Q.s. Al-Anbiya’: 35)

 

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah

Banyak orang yang mampu bertahan ketika mendapatkan ujian berupa kenikmatan, tapi ada juga yang gagal. Demikian juga dalam menghadapi ujian berupa musibah. Banyak yang tidak mampu bersabar, dan ada juga yang tetap tegar. Mereka yang tidak bersabar dengan musibah terkadang bahkan berputus asa atas rahmat Allah. Ia merasa tidak mampu berbuat apa-apa, sehingga putus harapan dan kehilangan asa. Tentu ini adalah sikap yang salah. Dan sikap ini bukan sikap seorang yang meyakini Allah sebagai Tuhannya. Tuhan yang menjaga dan mengatur alam semesta. Tuhan yang Maha Luas Rahmat-Nya. Karena seorang mukmin selalu mempunyai keyakinan akan janji Allah; bahwa di balik setiap kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat. Allah Ta’ala berfirman,

 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.s. Al-Insyirah: 5-6)

 

Dalam memahami kedua ayat ini, kita harus merujuk kepada para ulama agar sampai pada pemahaman yang tepat. Ada beberapa hal yang dijelaskan para ulama dari ayat ini, diantaranya:

 

Pertama; kata “al-‘Usr” (kesulitan) yang diulang dua kali menunjukkan bahwa hanya ada satu kesulitan. Sedangkan kata “Yusra” yang diulang dua kali menunjukkan ada dua kemudahan. Ini disebabkan perbedaan penggunaan dua kata tersebut. Kata “al-’Usr” didahului dengan “al” yang menunjukkan bahwa “al-’Usr” yang kedua adalah sama dengan “al-’Usr” yang pertama. Karena dalam Bahasa Arab, kata benda yang diawali dengan “al” disebut Isim Ma’rifah, yang mempunyai makna sesuatu yang spesifik yang sama-sama diketahui oleh pembicara maupun yang diajak bicara. Penggunaannya hampir sama dengan “The” dalam Bahasa Inggris. Dengan demikian, kesulitan yang dimaksud pada penyebutan pertama adalah sama dengan yang kedua, yaitu kesulitan tertentu yang sama-sama diketahui pembicara dan yang diajak bicara.

 

Berbeda dengan kata “Yusra” yang diulang dua kali. Bentuk kata ini adalah Nakirah, yang bermakna sesuatu yang tidak tertentu. Penggunaannya mirip dengan “a” atau “an” dalam Bahasa Inggris. Dalam ayat tersebut, “Yusra” yang pertama dan yang kedua sama-sama menggunakan bentuk Nakirah. Ini berarti, kemudahan yang pertama berbeda dengan kemudahan yang kedua.

 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada satu kesulitan yang berhadapan dengan dua kemudahan dalam ayat tersebut. Oleh karena itulah para ulama mengatakan: “Satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan.” Yaitu bahwa dalam setiap kesulitan, ada beberapa kemudahan yang menyertainya. Namun, yang sering kali manusia lengah untuk melihatnya.

 

Jika demikian, maka seharusnya seorang mukmin ketika mendapatkan kesulitan merasa tenang dan tetap komitmen dengan syariat Allah. Karena ia meyakini bahwa dalam musibah yang ia terima, ia akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dari sisi yang lain.

 

Kedua; di balik kesulitan, ada kemudahan yang begitu dekat. Dalam ayat  di atas, digunakan kata “Ma’a” yang bermakna “bersama”. Artinya, kemudahan akan selalu menyertai kesulitan. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang yang berliku-liku dan sempit, kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.” Maka ketika mendapatkan kesulitan, kita harus yakin akan ada kemudahan yang menyertainya.

 

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menjanjikan bahwa setiap kesulitan akan diikuti dengan kemudahan. Firman Allah,

 

سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”
(Q.s. Ath-Thalaq: 7)

 

Para ahli tafsir seperti Ibnu al-Jauzi dan Asy-Syaukani mengatakan dalam tafsir mereka, “Setelah kesempitan dan kesulitan, pasti akan ada kemudahan dan kelapangan.” Sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.”

 

Dalam konteks ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Bahwa kemenangan itu bersama dengan kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan kesulitan bersama dengan kemudahan.” (H.r. At-Tirmidzi)

 

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah

Bagi seorang mukmin, kesulitan yang dialami menunjukkan bahwa kemudahan akan segera datang menjelang. Mengapa demikian? Ibnu Rajab menjelaskan hal ini dengan mengatakan, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan merasa tidak mampu melihat jalan keluar dari kesulitannya. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakikat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.s. Ath-Thalaq: 3).

 

Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Bahwa kesulitan dan musibah seharusnya membawa manusia menuju tawakkal kepada Allah. Ia menggantungkan sepenuh jiwa dan raganya hanya kepada Allah. Rasa ketergantungannya kepada Allah menjadi tumbuh, dan sikap sombong dan takabburnya akan sirna. Pada saat itulah, Allah akan menurunkan rahmat dan jalan keluar atas kesulitan yang dihadapinya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tawakkallah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.

 

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam kehidupan ini, sehingga kita mampu menghadapi segala bentuk ujian dari-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 Khutbah Kedua

 

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْن، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْن، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

((يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا)).

أَمَّا بَعْدُ؛

((إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً)).

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.

 اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات.

 اللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِك، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْك، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا.

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب.

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

 وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

 وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *