IkadiDIY.com

IBNU SYIHAB AZ-ZUHRY, SANG PELOPOR KODIFIKASI HADIS

IBNU SYIHAB AZ-ZUHRY

SANG PELOPOR KODIFIKASI HADIS

 

Oleh: Ust. Achmad Dahlan, Lc., MA.

 

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin al-Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib al-Qurasyi az-Zuhry al-Madany. Kun-yah beliau Abu Bakar. Dalam dunia periwayatan hadis, orang mengenalnya dengan Ibnu Syihab az-Zuhry.

 

Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai tahun kelahiran beliau, antara tahun 50, 51 atau 56 Hijriyyah.

 

Beliau adalah seorang ahli Hadis yang berilmu dan menjadi rujukan. Beliau termasuk diantara perawi yang paling banyak meriwayatkan hadis pada zamannya. Beberapa ahli sejarah memprediksi beliau hafal lebih dari 2000 hadis beserta sanadnya. Maka wajar, banyak murid yang meriwayatkan hadis darinya. Jumlah muridnya sangat banyak sehingga tidak diketahui secara pasti. Selain itu, beliau juga seorang faqih (ahli fikih) dan mempunyai banyak fatwa dalam berbagai masalah hukum fikih yang dinukil generasi sesudahnya. Terdapat beberapa penelitian ilmiah baik berupa thesis maupun disertasi yang meneliti pendapat beliau dalam beberapa bidang fikih.

 

Secara Thabaqah, beliau termasuk tabi’in, karena pernah meriwayatkan dari beberapa shahabat, walaupun beliau juga lebih banyak meriwayatkan hadis dari ulama tabi’in lain. Beliau pernah berkata: “Lututku menyentuh lutut Sa’id bin al-Musayyib selama delapan tahun.” Dengan pernyataan ini, beliau ingin menjelaskan bahwa selama delapan tahun beliau mengambil ilmu dari ulama tabi’in besar yang merupakan salah satu dari murid shahabat Abdullah bin Abbas RA tersebut. Adapun diantara guru-gurunya dari kalangan shahabat adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Anas bin Malik, Sahl bin Sa’id, As-Saib bin Yazid, dan Abu ath-Thufail Radhiyallahu Anhum.

 

Semangat Menuntut Ilmu

Sejak muda Ibnu Syihab az-Zuhry mempunyai semangat untuk menuntut ilmu. Pada zamannya, tidak banyak orang yang mempunyai semangat menulis karena tradisi orang Arab yang lebih mengandalkan hafalan. Ditambah lagi, alat tulis masih menjadi barang langka yang tidak mudah ditemukan. Akan tetapi, Ibnu Syihab sejak awal menuntut ilmu sudah berkomitmen menggunakan alat tulis, disamping kemampuan hafalannya yang mumpuni.

 

Abu az-Zinad berkata: “Kami mengunjungi para ulama bersama Ibnu Syihab. Ia selalu membawa lembaran dan papan untuk menulis apapun yang di dengarnya.”

 

Abu az-Zinad juga berkata: “Kami dahulu menulis hukum halal dan haram saja, sedangkan Ibnu Syihab menulis semua yang ia dengar. Maka pada saat dibutuhkan, pada waktu itulah kami mengetahui bahwa ia menjadi ulama yang paling mumpuni.”

 

Ibrahim bin Sa’id meriwayatkan dari ayahnya: “Ilmu Ibnu Syihab sebenarnya tidak melampaui ilmu kami, akan tetapi ia selalu bersemangat untuk bertanya apapun yang tidak diketahuinya. Sedangkan kami malu untuk bertanya karena merasa masih muda.”

 

Ibnu Syihab pernah berkata: “Aku tidak pernah kepada guruku, tolong ulangi penjelasan anda.” Ini menunjukkan hafalan beliau yang kuat dan fokus dalam belajar.

 

Antusiasme dan semangat Ibnu Syihab az-Zuhry bahkan terkadang membuat istrinya merasa tidak diperhatikan. Diceritakan, apabila Ibnu Syihab sedang berada di rumah, ia meletakan semua bukunya di sekilingnya. Ia kemudian sibuk menelaah buku-buku tersebut hingga lupa dengan semua urusan dunia. Maka suatu saat istrinya berkata: ”Demi Allah, buku-buku ini menjadi cobaan yang berat bagiku lebih dari seandainya ia mempunyai empat istri.”

 

Keluasan Ilmu Ibnu Syihab Az-Zuhry

Al-Laits bin Sa’ad memberikan komentar mengenai keluasan ilmu Ibnu Syihab dengan mengatakan: “Aku tidak pernah melihat seorang ulama yang lebih menguasai berbagai disiplin ilmu seperti Ibnu Syihab. Ketika berbicara tentang targhib (motivasi beribadah), orang akan menyangka: Dia hanya menguasai ilmu ini. Demikian juga ketika ia berbicara tentang Ilmu Nasab kabilah Arab, orang menyangka hanya itu ilmu yang dikusainya. Dan jika dia berbicara tentang Alquran dan Sunnah, maka inilah bidang yang sangat dikuasainya.”

 

Karena keluasan ilmunya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang pada waktu itu menjadi pemimpin umat Islam mengirimkan surat ke semua gubernur yang berada di wilayah kekuasaanya mengatakan: “Hendaklah kalian mengambil ilmu dari Ibnu Syihab, karena tidak ada yang lebih mengetahui ilmu generasi yang terdahulu kecuali dia.”

 

Peran Ibnu Syihab Dalam Kodifikasi Hadis

Sejak zaman Rasulullah, tradisi periwayatan hadis secara lisan dilakukan oleh para shahabat yang kemudian dilestarikan oleh generasi sesudahnya. Disamping karena kemampuan baca tulis yang belum menyebar dikalangan masyarakat Arab, kemampuan hafalan orang Arab pada masa bisa dikatakan lebih dari rata-rata manusia, sebagai dampak budaya menghafal yang kuat. Mereka terbiasa menceritakan kisah-kisah peperangan dan peristiwa penting lain dalam sejarah secara lisan dan turun temurun. Demikian juga nasab/keturunan dihafal dengan sangat baik.

 

Tradisi meriwayatkan hadis secara lisan terus berlangsung. Walaupun sejarah menunjukkan sebagian perawi termasuk para shahabat menuliskan hadis mereka secara pribadi. Juga terdapat riwayat yang menunjukkan beberapa khalifah dan gubernur memerintahkan kepada beberapa ulama untuk menuliskan hadis. Diantaranya Abdul Aziz bin Marwan (ayah Khalifah Umar bin Abdul Aziz) ketika menjabat sebagai gubernur Mesir menulis surat kepada Katsir bin Murrah al-Hadhrami, salah seorang ulama dari kalangan tabi’in: ”Tuliskan untukmu hadis yang engkau dengar dari shahabat Nabi kecuali hadis-hadis Abu Hurairah, karena aku sudah memilikinya.”

 

Riwayat ini sekaligus menunjukkan bahwa hadis-hadis Abu Hurairah sudah tertulis dan tersimpan dengan rapi dan dimiliki oleh Gubernur Abdul Aziz bin Marwan.

 

Akan tetapi, kodifikasi secara resmi dan secara massif pertama kali dilakukan pada sekitar tahun 99 H, ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Ia mengkhawatirkan hilangnya hadis dan ilmu Islam dan memerintahkan agar periwayatan secara lisan dikuatkan dengan dokumentasi hadis dalam bentuk tulisan. Inilah yang sering disebut para ahli sejarah sebagai kofikasi secara resmi.

 

Imam Bukhari mencatat dalam Shahihnya, “Dan Umar bin Abdul Aziz menulis perintah kepada Abu Bakar bin Hazm, “Lihatlah apa yang merupakan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tulislah, karena sungguh aku mengkhawatirkan hilangnya ilmu dan lenyapnya para ulama.”

 

Dalam menjelaskan riwayat ini, Ibnu Hajar mengatakan dalam Fath al-Bari: “Riwayat ini menunjukkan awal permulaan kodifikasi hadis Nabawi. Dahulu kaum muslimin mengandalkan hafalan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz merasa khawatir hilangnya ilmu dengan meninggalnya para ulama dan berpandangan bahwa kodifikasi hadis dapat melestarikannya.”

 

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Tarikh Ashfahan kisah ini dengan redaksi, “Umar bin Abdul ‘aziz memerintahkan kepada seluruh penjuru negeri, “Lihatlah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kumpulkanlah.”

 

Diantara yang pertama kali mengumpulkan hadis atas perintah Umar bin Abdul ‘Aziz adalah Ibnu Syihab az-Zuhry. Beliau pernah berkata: ”Kami diperintahkan oleh Umar bin Abdul Aziz untuk mengumpulkan sunnah-sunnah Nabi, kemudian kami tuliskan dalam buku-buku, dan kemudian Umar mengirimkan satu buku ke setiap kota yang berada di bawah kekuasaannya.”

 

Sejarah mencatat, terdapat dua orang yang mendapat tanggung jawab dari Umar bin Abdul Aziz untuk mengumpulkan hadis-hadis Nabi, mereka adalah Abu Bakr bin Hazm dan Ibnu Syihab az-Zuhry. Dari sini kita bisa melihat peran besar Ibnu Syihab dalam proses kodifikasi hadis yang mempunyai dampak sangat besar bagi dokumentasi hadis setelah era shahabat.

 

Pujian Para Ahli Hadis Kepada Ibnu Syihab Az-Zuhry

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: ”Az-Zuhry orang yang paling baik dalam periwayatan hadis, dan paling kuat sanadnya.”

 

Ad-Darawardi berkata: “Orang yang pertama kali menulis ilmu adalah az-Zuhry.”

 

Sufyan ats-Tsauri berkata: ”Az-Zuhri adalah ulama yang pandai di Madinah.”

 

Umar bin Abdul Aziz berkata: ”Tidak ada orang yang mampu meriwayatkan hadis seperti az-Zurhy.” Dalam kesempatan lain, ia berkata: ”Hendaklah kalian mengambil ilmu dari az-Zuhry, karena kalian tidak akan bertemu lagi dengan orang yang lebih mengetahui sunnah umat yang sudah berlalu lebih dari az-Zuhry.”

 

Amr bin Dinar berkata: ”Aku tidak pernah melihat orang yang lebih teliti dalam hadis melebihi az-Zuhry.”

 

Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata: ”Tidak ada yang pernah melihat orang yang mengumpulkan hadis setelah zaman Rasulullah sebanyak az-Zuhry.”

 

Ayyub as-Sukhtiyani berkata: ”Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berilmu daripada az-Zuhry.”

 

Abu Bakar al-Hudzali, seorang ahli hadis yang pernah menjadi murid al-Hasan al-Bashri dan Ibnu Sirin berkata: ”Aku tidak pernah sama sekali melihat orang seperti az-Zuhry.”

 

Wafatnya Ibnu Syihab az-Zuhry

Menurut para ahli sejarah, Ibnu Syihab meninggal pada tanggal 17 Ramadhan tahun 124 H. Sebagian mengatakan tahun 125 H. Pada saat itu ia telah berumur 72 tahun.

 

Dan demikianlah jiwa yang baik yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari, mendokumentasikan, menjaga dan meriwayatkan hadis-hadis Nabi menemui Tuhannya. Ia kembali kepada Allah di bulan yang baik, dengan amalan yang baik. Akan tetapi, meninggalnya seorang ulama selalu membawa kesedihan umat Islam, karena ia pergi bersama semua ilmunya. Rahimahullah rahmatan wa’siah.

1 thought on “IBNU SYIHAB AZ-ZUHRY, SANG PELOPOR KODIFIKASI HADIS”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *