IkadiDIY.com

ISLAM, IMAN DAN IHSAN

ISLAM, IMAN DAN IHSAN 

Syarah Hadis ke-2 dari Kitab al-Arbain an-Nawawiyyah

Oleh: Achmad Dahlan, Lc., MA.

 

عن عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيضاً قَال: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إَذْ طَلَعَ عَلَيْناَ رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثّياب، شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنا أحَدٌ حَتى جَلَسَ إلَى النبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذِيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إلَه إلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله، وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً» قَالَ: صَدَقْتَ. فَعجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرِنيْ عَنِ الإِيْمَانِ! قَالَ: «أَنْ تُؤمِنَ بِالله، وَمَلاِئكَتِه، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَومِ الآَخِر، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ» قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ فَأخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ! قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ! قَالَ: «مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِها! قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرى الحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ» ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: «يَا عُمَرُ! أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوله أَعْلَمُ قَالَ: «فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلَّمُكُمْ دِيْنَكُمْ» رواه مسلم.

 

“Dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga, ia berkata: pada suatu hari kami duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak bekas bepergian jauh padanya, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyengkaurkan lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahanya. Dia bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam adalah engkau bersyahadat Lâ Ilâha Illâllâh dan Muhammadur Rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika engkau mampu menempuh perjalanannya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus yang membenarkannya. Lelaki itu bekata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang Iman!” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!” Beliau menjawab, “Engkau menyembah Allah seolah-olah melihatnya. Jika Engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat Engkau.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Beliau menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika engkau melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan bangunan.” Kemudian lelaki itu pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai ‘Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (H.r. Muslim).

 

Takhrij Hadis
Selain diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 8), -dengan redaksi yang lengkap seperti diatas-, hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4695), at-Tirmidzi (no. 2610), Ibnu Majah (no. 63), dan an-Nasa`i (VIII/97-101) dalam kitab Sunan mereka, juga diriwayatkan oleh Ahmad (I/27, 28, 51, 52), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 21), dan Abu Ya’la (no. 237) dalam kitab Musnad mereka.

 

Dikalangan ahli hadis, hadis ini terkenal dengan sebutan ”Hadis Jibril”. Riwayat yang paling lengkap sebagaimana dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Arba’in an-Nawawiyyah diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui shahabat Umar bin al-Khattab. Terdapat juga riwayat yang ringkas dalam Shahih al-Bukhari melalui shahabat Abu Hurairah.

 

Keistimewaan Hadis
Kandungan hadis ini sangat penting dan merupakan dasar utama dalam agama Islam. Al-Qurthubi menyebutnya sebagai: “Pokok dari semua hadis” sebagaimana al-Fatihah menjadi pokok dari semua ayat al-Qur’an. Disebut demikian karena hadis ini mengandung penjelasan tentang rukun Iman dan pokok syariat, yaitu penjelasan tentang rukun Islam dan Tazkiyah an-Nafs (penyucian jiwa) dan keimanan kepada yang ghaib mengenai tanda-tanda hari kiamat.

 

Kandungan Hadis
Berdasarkan hadis ini, agama Islam mencakup tiga hal: Islam, Iman dan Ihsan. Kesimpulan ini kita dapatkan dari statement terakhir Rasulullah dalam hadis yang menyatakan bahwa orang yang datang dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah Malaikat Jibril yang sengaja datang untuk mengajarkan agama Islam. Hal ini juga sekaligus menunjukkan bahwa salah satu metode dalam menurunkan syariat adalah kedatangan Jibril kepada Rasulullah dalam rupa manusia untuk menjelaskan hukum dan syariat tertentu.

 

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa fase yang harus dilalui seseorang dalam menjalani agama ini adalah dengan ber-Islam, yaitu melafalkan syahadat tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad utusan Allah. Dengan mengikrarkannya, seseorang dianggap sebagai seorang Muslim yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam masyarakat Muslim. Ikrar ini diikuti dengan melaksanakan rukun Islam yang lain melaksanakan shalat, berzakat, berpuasa dan berhaji jika mampu.

 

Fase selanjutnya adalah fase keimanan, dengan bersungguh-sungguh meyakini kewujudan Allah, malaikat, kitab dan para utusan Allah. Juga mengimani hari kiamat dan takdir. Dalam prakteknya, sering kali Iman yang terlebih dahulu ada dalam hati seseorang, yang kemudian mendorongnya untuk mengikrarkan syahadat. Akan tetapi karena bersyahadat dengan tanpa keimanan tetap menjadikan seseorang dianggap sebagai Muslim, maka tingkatan iman menjadi lebih tinggi dari sekedar berikrat syahadat, jika tanpa keimanan atau dengan keimanan yang lemah/ragu-ragu.

 

Selanjutnya, puncak dari ke-Islaman seseorang disebut dengan Ihsan, yaitu kondisi keimanan yang ketaatan penuh terhadap Allah, sehingga dalam semua aktifitasnya ia selalu merasa melihat Allah, atau merasa dilihat oleh Allah.

 

Bersyahadat Tanpa Iman

Kebanyakan orang mengikrarkan syahadat dengan disertai keimanan kepada Allah dalam hatinya. Tetapi dalam realitanya ada orang yang berpura-pura masuk Islam. Ia mengikrarkan syahadat dan bahkan melaksanakan semua rukun Islam, tapi dalam hatinya tidak ada setitik keimanan. Hal ini terjadi dalam tiap masa dan dengan berbagai motivasi dan tujuan. Salah satu contohnya adalah Christian Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang ilmuwan Belanda yang berpura-pura masuk Islam dan menjelma menjadi agamawan dengan gelar Syekh Abdoel Ghafar dalam rangka untuk melaksanakan misi penjajah Belanda untuk menumpas perjuangan rakyat Aceh. Ia bahkan sempat menuntut ilmu di Makkah dan mempelajari ilmu-ilmu Islam dari para ulama di Tanah Haram.

 

Demikian juga pada masa Rasulullah, terdapat komunitas kaum munafik di Madinah yang merepresentasikan fenomena ini. Mereka berpura-pura masuk Islam tanpa keimanan dalam hati. Rasulullah SAW mengetahui satu persatu orang munafik di Madinah karena mendapatkan wahyu dari Allah Taa’la melalui Jibril Alaihissalam. Oleh karena itu, Rasululah pernah menyampaikan bahwa diantara shahabatnya ada orang yang tidak akan bersamanya di surga dalam sabdanya,

 

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ:مِنْ أَصْحَابِي مَنْ لا يَرَانِي بَعْدَ أَنْ أَمُوتَ أَبَدًا…

 

”Dari Ummu Salamah, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ”Diantara shahabat-shahabatku ada yang tidak akan bertemu aku selamanya setelah aku wafat.” (Hr. Ath-Thabrani, Ahmad, Abu Ya’la, dan al-Bazzar dengan sanad yang shahih)

 

Nama-nama orang munafik tersebut juga diketahui oleh Hudzaifah bin al-Yaman sebagai seorang shahabat yang dekat dengan Rasulullah dan terkenal sebagai pemegang rahasia Rasulullah. Suatu saat, Umar pun pernah menanyakan kepada Hudzaifah apakah ia termasuk golongan orang munafik,

 

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: دُعِيَ عُمَرُ، لِجِنَازَةٍ، فَخَرَجَ فِيهَا أَوْ يُرِيدُهَا فَتَعَلَّقْتُ بِهِ فَقُلْتُ: اجْلِسْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، فَإِنَّهُ مِنْ أُولَئِكَ، فَقَالَ: «نَشَدْتُكَ اللَّهَ أَنَا مِنْهُمْ»، قَالَ: «لَا وَلَا أُبَرِّئُ أَحَدًا بَعْدَكَ»

 

”Dari Hudzaifah RA ia berkata: ”Umar diundang untuk hadir dalam pemakaman seseorang, maka ia pun berangkat untuk menghadirinya dan ikut mengangkat jenazah tersebut. Aku kemudian berkata: ”Duduklah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ia termasuk mereka (yaitu orang-orang munafik).” Umar kemudian bertanya: ”Aku memohon atas nama Allah, apakah aku termasuk diantara mereka?” Hudzifah menjawab: ”Tidak, dan aku tidak akan membeberkan kepada selain engkau.” (Hr. Al-Bazzar dengan sanad yang shahih)

 

Keunikan Kata Iman dan Islam
Menurut para ulama, -dalam nash Al-Qur’an dan Hadis-, kata Iman dan Islam jika disebutkan tidak dalam satu rangkaian kalimat, maka dua kata tersebut bisa saling menggantikan. Artinya, Iman berarti Islam dan sebaliknya. Akan tetapi apabila disebutkan dalam satu rangkaian, maka masing-masing mempunyai maknanya sendiri. Inilah kaidah yang disebutkan oleh para ulama mengenai Iman dan Islam,

 

إِذَا اجْتَمَعَا تَفَرَّقَا، وَإِذَا تَفَرَّقَا اجْتَمَعَا

Jika bersama, keduanya berbeda, jika berpisah, keduanya sama

 

Misalnya ketika Rasulullah menyatakan dalam sebuah hadis: ”Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” (Muttafaq Alaih), juga bermakna: ”Seorang Mukmin adalah saudara bagi Mukmin lainnya. Sebagaimana ketika Allah memanggil dalam Al-Qur’an: ”Wahai orang-orang yang beriman” maka yang juga dipanggil adalan orang-orang yang ber-Islam. Sedangkan dalam hadis ini, Rasulullah menyebutkan Iman dan Islam dalam satu rangkaian sehingga masing-masing mempunyai maknanya sendiri.

 

Pelajaran dari kedatangan Jibril
Dalam hadis ini dijelaskan bahwa Jibril AS mendatangi Rasulullah SAW yang sedang duduk bersama shahabat-shahabatnya dengan memakai pakaian putih bersih dan rambut hitam yang rapi sehingga shahabat tidak melihat bekas perjalanan jauh padanya. Terdapat beberapa pelajaran dari peristiwa ini:

 

1. Memakai baju putih diantara hal yang dianggap baik oleh masyarakat Arab pada saat itu, karena mencerminkan kebersihan dan kerapian. Rasulullah sendiri dalam sabdanya menyuruh kita untuk memakai baju berwarna putih, dan menggunakan kain putih untuk mengkafani jenazah. Sabda Rasul,

 

الْبَسُوا الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

 

“Pakailah pakaian putih, karena ia lebih suci dan lebih baik. Dan kafanilah jenazah kalian dengannya (kain putih).” (H.r. At-Tirmidzi dan dia mengatakan hadis ini hasan atau shahih).

 

Walaupun demikian, memilih warna pakaian adalah soal kepantasan dan budaya masyarakat. Beberapa jenis model dan warna pakaian barangkali dianggap dianggap tidak pantas oleh masyarakat tertentu. Terlebih, Rasulullah sendiri mengajarkan untuk memakai berbagai model pakaian yang dipakai masyarakat pada masa beliau dengan berbagai warna, dan tidak selalu memakai kain putih. Sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis, terkadang beliau memakai baju berwarna merah (H.r. Al-Bukhari dari riwayat al-Bara’), sorban berwarna hitam (H.r. Muslim dari riwayat Jabir bin Abdillah), baju bergaris berwarna hijau (H.r. Abu Dawud dari riwayat Abu Rimtsah), baju berwarna hitam (H.r. An-Nasa’i dari riwayat Abdullah bin Zaid) dll.

 

Demikian juga model baju yang dipakai Rasulullah tidak selalu sama. Terkadang beliau memakai baju dan sirwal (celana longgar), jubah, baju tebal yang bisa digunakan untuk selimut, kain atas dan bawah (semacam sarung), baju bergaris dll.

 

2. Dalam menyampaikan wahyu, Jibril terkadang mendatangi Rasulullah dan menjelma menjadi manusia dengan paras yang rupawan. Dan paling sering beliau menjelma menjadi dalam rupa Dihyah al-Kalbi, salah seorang shahabat Nabi yang tampan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Abdullah bin Umar RA,

 

وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صُورَةِ دِحْيَةَ

 

”Dahulu Jibril AS mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam rupa Dihyah al-Kalbi.” (H.r. Ahmad dengan sanad yang shahih)

 

3. Penampilan Jibril yang bersih dan rapi merupakan bentuk pengajaran kepada umat Islam, bahwa orang yang menuntut ilmu hendaknya berpakaian yang rapi dan bersih. Dan ini juga yang diajarkan oleh para ulama salaf, diantaranya Imam Malik yang selalu memakai baju terbaik jika ingin mengajar. Ibnu Abi Uwais berkata: ”Imam Malik jika ingin meriwayatkan hadis, ia berwudhu’, kemudian duduk di bagian depan permadaninya dan menyisir jenggotnya. Ia duduk dengan hikmat dan penuh wibawa kemudian mulai menyampaikan hadis Nabi. ” Mutharrif bin Abdullah menambahkan: ”Ia memakai wewangian dan baju yang baru, kemudian mulai menyampaikan hadis Nabi.”

 

4. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa Jibri AS mendekat kepada Rasulullah hingga lututnya bersentuhan dengan lutut Nabi. Ini memberikan pelajaran bahwa seorang yang menuntut ilmu hendaklah mendekat kepada gurunya agar lebih fokus dalam mendengarkan apa yang akan disampaikannya.

 

5. Mendekatnya Jibril kepada Rasulullah dengan duduk dihadapannya juga memberikan pelajaran tentang sikap yang sopan di hadapan guru, karena seorang guru memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Bahkan Syu’bah bin Hajjaj ats-Tsaqafi, seorang ulama hadis dari generasi Tabiin pernah berkata: ”Siapapun yang aku menulis empat hadis darinya, maka aku menjadi hamba sahayanya hingga aku mati.” (H.r. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq)

 

Tentang Rukun Iman dan Rukun Islam
Rukun berarti hal yang pokok. Ia bisa juga berarti tiang penyangga yang ketiadaanya akan menyebabkan runtuhnya seluruh bangunan. Jika analogi ini kita aplikasikan pada rukun Iman dan rukun Islam, maka berarti ketiadaan salah satu rukun membuat runtuh seluruh bangunan Iman atau bangunan Islam.

 

Akan tetapi, analogi ini hanya relevan untuk rukun Iman; yaitu bahwa seseorang yang diterima Imannya oleh Allah Ta’ala adalah mereka yang mengimani keseluruhan rukun Iman. Iman kepada Allah harus diikuti dengan keimanan terhadap malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, hari kiamat dan Qadha dan Qadar. Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah bersepakat mengenai hal ini. Dengan kata lain, orang yang mengingkari salah satu dari enam rukun Iman, maka seluruh bangunan Imannya runtuh dan ia dianggap kafir. Firman Allah,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

 

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh.” (Q.s. An-Nisa’: 136)

 

Demikian juga sabda Rasulullah mengenai Iman kepada Qadha dan Qadar,

 

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ

 

”Seorang hamba tidak beriman sehingga ia beriman dengan Qadar, yang baik dan yang buruk. Hingga ia meyakini bahwa sesuatu yang menimpanya tidak akan luput darinya, dan sesuatu yang luput tidak akan menimpanya.” (H.r. At-Tirmdzi)

 

Sedangkan untuk rukun Islam, para ulama tidak sepakat mengenai orang yang meninggalkan salah satu dari rukun Islam. Secara singkat dalam dijelaskan bahwa syahadat merupakan syarat minimal yang harus dilakukan untuk menjadi muslim. Hal ini disepakati oleh seluruh ulama. Demikian juga ulama bersepakat mengenai kafirnya orang yang meninggalkan salah satu atau semua rukun Islam karena ingkar. Sedangkan jika meninggalkan salah satu rukun Islam –selain syahadat- bukan karena mengingkari kewajibannya, akan tetapi karena malas atau sebab lain, ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

 

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu: ”Umat Islam bersepakat bahwa orang yang mengingkari kewajiban shalat kafir murtad, karena kewajiban shalat telah ditetapkan dengan dalil qath’i dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan orang yang meninggalkan shalat karena malas atau meremehkannya, maka dia dianggap fasik dan maksiat. Kecuali, jika orang tersebut Muallaf (baru masuk Islam) ataupun dia hidup di lingkungan yang tidak bercampur dengan orang Islam untuk beberapa waktu, sehingga, tidak ada orang yang memberitahunya tentang kewajiban mengerjakan shalat.” (1/546)

 

Jika orang yang meninggalkan shalat karena malas tidak kafir, maka demikian juga halnya dengan yang meninggalkan rukun lain. Dengan syarat meninggalkannya bukan karena mengingkari wajibnya ibadah tersebut.

 

Akan tetapi, khusus dalam Madzhab Hanbali, terdapat salah satu riwayat dari Imam Ahmad yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat –walaupun cuma sekali- dengan sebab apapun menjadi kafir. (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah: 7/302)

 

Makna Ihsan
Puncak derajat ke-Islaman seseorang –sebagaimana dijelaskan dalam hadis ini- disebut dengan Ihsan. Esensi dari Ihsan adalah melakukan ibadah kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dan maksimal dengan dilandasi keikhlasan dan melaksanakan sesuai apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Sebagian ulama membagi tingkatan ihsan menjadi tiga:

 

1. Tingkatan yang paling rendah adalah melaksanakan ibadah dengan baik, ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi. Ini merupakan kadar minimal seseorang dikatakan melakasanakan ibadah dengan Ihsan.

 

2. Tingkatan yang lebih tinggi disebut dengan Muraqabatullah atau Maqam al-Muraqabah; yaitu kesadaran seorang mukmin selalu berada dalam pengawasan Allah dalam setiap aktifitas yang dilakukannya.

 

3. Tingkatan yang paling tinggi adalah Musyahadatullah atau Maqam al-Musyahadah; yaitu seorang mukmin mampu merasakan seakan-akan melihat Allah dalam semua aktifitasnya.

 

Imam an-Nawawi berkata: ”Bagian ini merupakan prinsip agung dalam agama dan merupakan salah satu kaidah yang sangat penting.” (Fath al-Bari: 1/80)

 

Beberapa Tanda Hari Kiamat
Di bagian akhir hadis ini, Rasulullah menjelaskan beberapa tanda hari kiamat. Hari kiamat adalah hari berakhirnya kehidupan dunia bagi semua makhluk dan fase awal di kehidupan akhirat. Tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah. Akan tetapi, dalam Al-Quran dan hadis disebutkan beberapa tanda kedatangannya. Tanda-tanda ini sangat banyak, yang dalam penelitian yang dilakukan Yusuf al-Wabil dalam thesisnya yang diujikan di Universitas Ummul Qura mencapai lebih dari 60 tanda, baik tanda kecil maupun besar. Tanda kecil merupakan tanda hari kiamat yang jarak waktunya relatif jauh, diawali dari wafatnya Rasulullah SAW dan terjadinya bersifat lokal; yaitu hanya terjadi di sebagian wilayah tertentu . Sedangkan tanda besar adalah tanda yang dekat dengan terjadinya kiamat dan menimpa atau diketahui seluruh penduduk bumi. Sebagian besar ulama memulai tanda kiamat besar dengan kemunculan Dajjal.

 

Adapun tanda hari kiamat yang dijelaskan dalam hadis ini adalah:

 

1. Seorang budak melahirkan tuannya. Sebagian memaknainya dengan terhapusnya perbudakan di dunia.

 

2. Seorang penggembala yang miskin, tidak berbaju dan bertelanjang kaki berkompetisi membuat bangunan yang tinggi. Sebagian memaknai dibukanya rezeki manusia sehingga tidak ada lagi orang yang miskin. Sebagian lain memahami bahwa yang dimaksud adalah orang-orang Arab yang dahulunya dalam kondisi miskin dan kemudian setelah Allah membukakan pintu rezeki-Nya, mereka berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi seperti Burj al-Khalifah (Khalifa Tower). Wallahu A’lam

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *