IkadiDIY.com

KESUCIAN BULAN MUHARRAM

KESUCIAN BULAN MUHARRAM

Oleh: Ust. Endri Nugraha Laksana (Abdulloh Sunono)

 

Pada saat Allah Swt. menciptakan langit dan bumi, telah ditetapkan hitungan pada pergerakan langit dan bumi. Bumi melakukan rotasi (mengelilingi dirinya sendiri) dengan hitungan waktu selama satu hari satu malam. Bumi mengelilingi matahari selama satu tahun dengan hitungan dua belas bulan. Demikian pula perjalanan edar bulan mengelilingi dirinya sendiri, kemudian bulan mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari; semua telah ditetapkan hitungan waktu oleh Allah Swt. Hal itu dijelaskan  dalam firman-Nya.

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi …” (Q.s. At-Taubah : 36).

 

Manusia ada yang menjadikan perjalanan matahari sebagai panduan waktu. Pilihan ini biasa dikenal sebagai perhitungan kalender Masehi atau Syamsiyah. Ada pula yang menjadikan perjalanan bulan sebagai panduan waktu. Pilihan ini biasa menyaran pada penggunaan kalender Hijriyah atau Qomariyah. Ada beberapa perbedaan antara penduan waktu berdasarkan kalender Masehi dengan kalender Hijriyah.

 

Tahun Masehi dicirikan dengan hal-hal berikut ini.

 

1. Perhitungan tahun berdasarkan garis edar matahari sehingga disebut sebagai Tahun Syamsiyah.

2. Satu tahun ada 12 bulan dan 365/366 hari,

3. Usia satu bulan selama 30 dan 31 hari, kecuali Pebruari.

4. Pergantian hari terjadi pas jam 24.00 / 00.00.

 

Tahun Hijriyah ditandai dengan hal-hal berikut ini.

 

1. Perhitungan tahun berdasarkan garis edar bulan sehingga disebut juga Tahun Qamariyah.

2. Satu tahun ada 12 bulan dan 354/355 hari.

3. Usia satu bulan selama 29 dan 30 hari. Setiap tahun Hijriyah akan selalu maju 10-12 hari dibandingkan tahun Masehi.

4. Pergantian hari terjadi saat maghrib.

 

Bulan Muharam Termasuk dalam Asy-hurul Hurum (Bulan Yang Dihormati)

Berdasarkan perhitungan kalender, maka satu Muharam 1443 H akan bertepatan dengan hari Selasa (10/8/2021 M). Muharam adalah salah satu bulan di antara empat bulan yang dihormati dalam agama Islam. Rasulullah saw. telah bersabda.

 

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ استدار كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ، اَلسَّنَةُ اِثْناَ عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُوالْقَعْدَةِ وَذُوالْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar) sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab Mudhar yang berada di antara Jumada (Akhir) dan Sya’ban.” (H.r. Al Bukhari dan Muslim).

 

Asy-Hurul Hurum artinya adalah bulan haram atau bulan yang dihormati. Ada empat bulan yang dihormati, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Empat bulan itu disebut sebagai bulan haram dikarenakan alasan berikut ini.

 

1. Diharamkan Berperang di Dalamnya

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan maksud mengapa disebut sebagai bulan haram (bulan yang dimuliakan) karena Allah telah mengharamkan (melarang) kaum muslimin untuk berperang di dalamnya. Disebut dengan Asy-hurul Hurum, kata “hurum” merupakan bentuk jamak dari haram. Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar.” (Q.s. Al-Baqarah : 217).

 

Ayat di atas menjelaskan tentang dilarangnya berperang pada bulan-bulan tersebut. Itu merupakan rahmat Allah terhadap segenap hamba-Nya, agar mereka bisa melakukan perjalanan (dengan aman) dalam bulan-bulan itu, dan bisa melaksanakan haji serta umrah. (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, jilid ke-18, hal. 433).

 

2. Dilarang Melakukan Perbuatan Dzalim

Pada empat bulan haram, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab dilarang melakukan perbuatan zalim di dalamnya. Allah Swt. telah berfirman.

 

… فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ …

“… Maka janganlah kalian berbuat dzalim terhadap diri kalian dalam bulan (haram) yang empat itu …” (Q.s. At-Taubah : 36).

 

Abdullah bin Abbas menjelaskan tafsir dari ayat di atas sebagai berikut.

 

أي فِيْهِنَّ كُلُّهُنَّ؛ ثُمَّ اخْتَصُّ مِنْهُنَّ أَرْبَعَةٌ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا وَعَظَمَ حُرُمَاتُهُنَّ،

“Janganlah kalian berbuat zalim terhadap diri kalian), yakni pada seluruh bulan yang ada, kemudian dikhususkan dalam empat bulan yang Allah telah menjadikannya sebagai bulan-bulan haram, yang telah dilebihkan kedudukannya daripada bulan yang lain” (Lathaif Al Ma’arif: 124)

 

3. Dilipatkan Pahala dan Hukuman

Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya menukil perkataan sahabat Ibnu Abbas r.a., perihal kemuliaan yang Allah Swt. berikan untuk bulan-bulan haram ini.

 

خَصَّ اللَّهُ مِنْ شُهُورِ الْعَامِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حُرُمًا ، وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ ، وَجَعَل الذَّنْبَ فِيهِنَّ وَالْعَمَل الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ

“Allah Swt. memberikan keistimewaan untuk empat bulan haram di antara bulan-bulan yang ada, dan diagungkan kemuliaannya bulan itu, dan menjadikan dosa yang terbuat serta amal ibadah yang dilaksanakan menjadi lebih besar ganjaran dosa dan pahalanya”.  (Tafsir Ath-Thabari 14/238)

 

4. Bulan yang Disucikan

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir surat yang sama, beliau menukil perkataan Imam Qatadah, ahli tafsir dari kalangan Tabi’in.

 

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى اصْطَفَى صَفَايَا مِنْ خَلْقِهِ ، اصْطَفَى مِنَ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً ، وَمِنَ النَّاسِ رُسُلاً ، وَاصْطَفَى مِنَ الْكَلاَمِ ذِكْرَهُ ، وَاصْطَفَى مِنَ الأَْرْضِ الْمَسَاجِدَ ، وَاصْطَفَى مِنَ الشُّهُورِ رَمَضَانَ وَالأَْشْهُرَ الْحُرُمَ ، وَاصْطَفَى مِنَ الأَْيَّامِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَاصْطَفَى مِنَ اللَّيَالِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ. فَعَظِّمُوا مَا عَظَّمَ اللَّهُ ، فَإِنَّمَا تُعَظَّمُ الأْمُورُ بِمَا عَظَّمَهَا اللَّهُ عِنْدَ أَهْل الْفَهْمِ وَأَهْل الْعَقْل

“Allah Swt. Mensucikan makhluk-Nya di antaranya makhluk-makhluk ciptaan-Nya, mensucikan para Rasul dari kalangan Malaikat, mensucikan para Rasul di antara manusia yang lain, mensucikan dzikir dari perkataan makhluk-Nya, mensucikan masjid dari tanah-tanah lain, mensucikan bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lain, mensucikan hari Jumat di antara hari-hari lain, mensucikan malam lailatul-qadr di antara malam-malam lain. Maka muliakanlah apa yang Allah Swt.  telah muliakan. Sesungguhnya memuliakan apa yang Allah Swt. muliakan adalah yang dilakukan para ahli ilmu dan orang-orang berakal.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/149)

 

Disyari’atkan Puasa pada Bulan Muharam

1. Ketika di Makkah

Ketika Rasulullah saw. masih menjalankan amanah dakwah di Makkah, beliau diwajibkan puasa pada 10 Muharram atau Puasa Asyuro. Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan sebagai berikut.

 

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ

Pada zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

 

Puasa Asyuro tersebut bersamaan dengan ritual penggantian kiswah Ka’bah, rumah ibadah yang sangat dihormati orang Quraisy. Aisyah r.a. menceritakan sebagai berikut.

 

كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ

Manusia melaksanakan puasa hari ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dan hari itu adalah hari ditutupnya Ka’bah (dengan kiswah).”  (Sahih Al-Bukhari dan Musnad Ahmad).

 

2. Ketika di Madinah

Ketika Rasulullah saw. sampai di Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi juga menjalankan puasa Asyuro. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menceritakan sebagai berikut.

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Rasulullah saw. mendatangi kota Madinah, lalu didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau pun bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan Kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” Kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan kaum puasa di hari itu. (H.r. Al-Bukhari dan Muslim).

 

3. Ketika Puasa Ramadhan Diwajibkan

Setelah dua tahun berada di Madinah, maka Allah Swt. menurunkan syari’at puasa Ramadhan kepada Kaum Muslimin. Maka puasa Asyuro yang semula wajib hukumnya berubah menjadi sunnah diganti dengan kewajiban puasa Ramadhan. Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu mengatakan,

 

فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.

Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.” ( H.r. Muslim, no. 1126)

 

4. Hukumnya Sunnah Mu’akaddah

Puasa Asyuro atau puasa tanggal 10 Muharram adalah puasa sunnah yang senantiasa dijalankan Rasulullah saw. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

 

إِنَّ عَاشُوْرَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللهِ . فَمَنْ شَآءَ صَامَهُ وَمَنْ شَآءَ تَرْكُهُ

Sesungguhya Asyura ini adalah satu hari di antara hari-hari yang dimiliki oleh Allah ta’ala, maka bagi siapa yang hendak berpuasa baginya untuk berpuasa dan bagi siapa yang ingin meninggalkan maka baginya pula untuk meninggalkannya.” (H.r. Muslim)

 

5. Keutamaannya

Puasa Asyuro adalah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Muharram” (H.r. Muslim)

 

Selain itu, Puasa Asyuro juga mempunyai fadhilah, yaitu menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Dari Abu Qatadah Al Anshari radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab: “Ia akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang telah berlalu.” (H.r. Muslim)

 

Pelaksanaan Puasa Bulan Muharam

1. Tanggal 9 dan 10 Muharam

Puasa Muharam adalah puasa Asyuro, yaitu puasa yang dijalankan pada 10 Muharam. Tetapi puasa Muharam juga bisa dijalankan tanggal 9 dan 10 Muharam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Seandainya tahun depan aku masih hidup, niscaya saya benar-benar akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharam).” (H.r. Muslim)

 

Rasulullah saw. menginginkan puasa Asyura pada 10 Muharram ditambah dengan puasa Tasu’a pada 9 Muharam supaya ibadah puasa Muharam yang dilakukan Kaum Muslimin berbeda dengan ibadah puasa Muharam yang dilakukan orang-orang Yahudi. Ibnu Abbas r.a. menggambarkan sebagai berikut.

 

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nashrani,” maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika begitu maka tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.” Ibnu ‘Abbaas berkata, “Tahun depan belumlah datang hingga Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam wafat.” (H.r. Muslim, no. 1136)

 

2. Puasa tanggal 9 dan 10 Muharam atau 10 dan 11 Muharam

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda.

 

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyuro` dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi padanya, (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”. (H.r. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah dalam Sahihnya)

 

3. Pendapat Ibunul-Qayyim Al-Jauziyah

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Za’adul Ma’ad menjelaskan bahwasa berpuasa pada hari Asyura itu ada empat macam.

Pertama, berpuasa hanya pada 10 Muharam.

Kedua, berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharam.

Ketiga, berpuasa tanggal 10 dan 11 Muharam.

Keempat, berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharam, yang juga terdapat faedah di dalamnya, yaitu puasa tiga hari dalam satu bulan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al ‘Utsaimin: jilid ke-20, hal. 38)

 

Semoga kita dianugerahi kemampuan untuk dapat menjalankan ibadah puasa Muharam. Aamiin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *