IkadiDIY.com

Materi Khutbah Jumat 13 Agustus 2021 Edisi 266 Ikadi DIY: MENUMBUHKAN OPTIMISME SAAT PANDEMI

MENUMBUHKAN OPTIMISME SAAT PANDEMI

Oleh: Dr. K.H. Tulus Musthofa, Lc., MA.
(Ketua Dewan Syura Pimpinan Pusat Ikadi)

 

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

Download MS Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

 

الْحَمْدُ لِلَّه، تَفَرَّدَ عِزًّا وَكَمَالاً، وَاخْتَصَّ بَهَاءً وَجَمَالاً وَجَلَالاً، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُه، تَقَدَّسَ وَتَنَزَّهَ وَتَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَأَسْأَلُهُ جَلَّ فِيْ عُلاَهُ صَلاَحَ الشَّأْنِ كُلَّهُ حَالاً وَمَآلاً.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، أَمَرَنَا بِعِبَادَتِهِ وَطَاعَتِهِ غُدُوًّا وَآصَالاً، وَحَذَّرَنَا مَغَبَّةَ التَّفْرِيْطِ لَهْوًا وَإِغْفَالاً، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، أَزْكَى الْوَرَى خِصَالاً، وَأَسْنَى الْبَرِيَّةِ خِلَالاً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ بَلَغُوْا مِنَ السُّؤْدَدِ ذُرَاهُ، وَتَفَيَّؤُوْا مِنَ الْمَجْدِ ظِلاَلاً، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْد؛

فَيَا عِبَادَ الله، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَأَطِيْعُوْهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، قَالَ تَعَالَى:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ أَيْضًا: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ

 إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt. Apapun keadaan kita, hendaklah kita tetap bersyukur kepada Allah, termasuk dalam situasi pandemi Covid-19 yang masih kita alami sampai saat ini. Memang pandemi ini menjadikan kehidupan kita tidak nyaman; tidak sama seperti saat sebelum virus ini menyebar. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan nikmat yang terus-menerus Allah anugerahkan kepada kita, sungguh nikmat Allah jauh lebih banyak dan lebih besar.

 

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Ibrahim: 35)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan hampir satu setengah tahun telah memberikan dampak multidimensi, salah satunya adalah dampak psikologis. Sebuah penelitian menyatakan bahwa masyarakat merasakan kondisi yang sangat berat menghadapi ketidakpastian pandemi ini. Selama masa pandemi Covid-19, dalam konteks psikososial, 58,6% responden menyatakan merasa cemas. Dari sisi kehidupan ekonomi, 76,1% merasa cemas. Dalam konteks interaksi sosial sebanyak 60,4% merasa cemas, dan dalam konteks kehidupan beragama 62,8% merasa biasa saja.  Dari data ini kita dapat melihat bahwa masyarakat kita mengalami dampak psikologis yang cukup signifikan sehingga banyak pihak sangat berharap peranan pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini.

 

Gangguan kecemasan pada tubuh dapat berdampak pada sistem imun karena stres yang berlangsung lama. Hal ini membuat tubuh tidak mendapat sinyal untuk kembali berfungsi normal. Kondisi ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus dan penyakit.

 

Kecemasan yang terjadi terus-menerus pada gilirannya bisa memunculkan pesimisme. Orang yang pesimis akan mengalami rasa sepi dan curiga ketika berinteraksi dengan orang lain. Situasi ini akan berdampak kemampuannya untuk berkembang dan maju. Akibatnya, pesimisme seringkali menjadi faktor utama dalam kasus bunuh diri.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Islam mendorong umatnya agar senantiasa bersikap optimis dalam menghadapi masalah apapun. Optimisme merupakan salah satu cara mengatasi berbagai persoalan. Ia merupakan cahaya dalam kegelapan, sebagai exit (jalan keluar) dari berbagai krisis dan bencana yang menimpa kehidupan. Rasulullah saw. mengajarkan, baik secara lisan maupun perbuatan, untuk selalu bersikap optimis.

 

Optimisme terbentuk dari keimanan seseorang kepada Allah Swt. Seorang mukmin merasa selalu dibersamai Allah Swt. dalam setiap situasi dan kondisi sehingga jiwanya tenang dan timbul rasa optimis. Ilustrasi sikap optimis ini bisa dilihat dari kisah Rasulullah saw. ketika melakukan hijrah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Saat itu, mereka bersembunyi di dalam gua Tsur. Kaum Quraisy yang mengejar mereka telah sampai di mulut gua. Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah bawah maka akan terlihat keberadaan Rasulullah saw. dan Abu Bakar. Akan tetapi, dengan optimisme yang sangat kuat, Rasulullah menenangkan Abu Bakar. Beliau saw. mengatakan,

 

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.”
(Q.s. At-Taubah: 40).

 

Di antara yang membuat seorang mukmin merasa tenang dan bersikap optimis adalah pemahaman mereka terhadap nama dan sifat Allah yang mulia. Ia mengetahui bahwa Allah Maha Penyayang dengan rahmat yang sangat luas, Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya, selalu membela dan menolong orang yang beriman, dan mengampuni dosa, serta kesalahan mereka. Allah berfirman,

 

وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”
(Q.s. Yusuf: 64).

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ

“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya.”
(Q.s. Asy-Syura: 19).

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(Q.s. Al-A’raf: 156).

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.”
(Q.s. Al-Hajj: 38).

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ

“Allah Yang Mengampuni dosa dan menerima taubat.”
(Q.s. Ghafir: 3).

Nama-nama Allah (Asmaul Husna) ini menjadikan setiap mukmin selalu memiliki harapan setiap menghadapi masalah apapun.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Allah Swt. melarang seorang mukmin bersikap pesimis, karena sikap ini menunjukkan keputusasaan dan menafikan kuasa Allah. Orang yang pesimis seakan-akan menganggap Allah tidak berkuasa atas hamba-hamba-Nya, seperti dalam konteks pandemi saat ini. Bersikap pesimis berarti tidak yakin bahwa Allah berkuasa menghilangkan wabah ini, karena tiada satu pun yang terjadi di alam semesta ini kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Allah berfirman,

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّه يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Az-Zumar: 53)

 

Al-Quran menceritakan anak-anak Nabi Ya’qub yang diperintahkan sang ayah untuk mencari Yusuf yang telah hilang sejak kecil; beliau menasihati mereka untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah.

 

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ  إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya serta jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Q.s. Yusuf: 87).

 

Rasulullah saw. menyampaikan bahwa Allah Swt. selalu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berprasangka baik kepada Allah. Ini adalah salah bentuk sikap optimis seorang mukmin. Allah berfirman dalam hadis Qudsi,

 

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي. إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ. وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

“Aku (Allah) sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”  (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Selain ayat dan hadis Qudsi yang telah dibacakan, terdapat pula sabda Rasulullah saw. bahwa beliau melarang umatnya untuk bersikap pesimis. Sabda beliau,

 

«لاَ طِيَرَةَ، وَخَيْرُهَا الفَأْلُ» قَالُوا: وَمَا الفَأْلُ؟ قَالَ: «الكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ»

“Tidak ada thiyarah (menganggap sial pada sesuatu sehingga tidak jadi beramal) dan yang baik adalah al-Fa`lu.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah al-Fa`lu itu?” Beliau menjawab, “Yaitu kalimat baik yang didengar oleh salah satu dari kalian.”  (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Rasulullah saw. bahkan menyatakan bahwa orang yang dengan pesimis mengatakan masyarakat telah rusak, maka ia adalah orang yang paling rusak.

 

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

Jika seseorang mengatakan semua orang rusak, maka ialah orang yang paling rusak.”  (H.r. Muslim)

 

Dalam hadis ini, Rasulullah saw. melarang memberi penilaian negatif secara general pada masyarakat yang dianggap sudah rusak. Di tengah tengah masyarakat yang baik selalu ada orang-orang yang tidak baik, begitu juga sebaliknya. Hal ini sekaligus juga memberi pengajaran kepada para dai untuk tidak pernah putus asa untuk melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar; bagaimanapun kondisi kerusakan yang ada di tengah masyarakat.

 

Oleh karena itu, dalam situasi pandemi Covid-19 sekarang ini, kita pun harus tetap optimis. Insya Allah, pada saatnya nanti Allah Swt. akan mengangkat wabah ini sebagaimana wabah-wabah sebelumnya. Kita meyakini bahwa setiap ada kesulitan, akan dijumpai pula di dalamnya banyak kemudahan-kemudahan. Firman Allah Swt.,

 

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(Q.s. Al-Insyirah: 5).

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنِىْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم.

أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا، وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الغَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

Khutbah Kedua:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ المُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَى.

أَمَّا بَعْد؛

فَيَا عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَـمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا ٱَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد، وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْم، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّد، وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْم، وَعَلَى آلِ  إِبْرَاهِيْم، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاء، وَالْغَلَاء، وَالْوَبَاء، وَالْفَحْشَاء، وَالْمُنْكَر، وَالْبَغْي، وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَة، وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَن، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّة، وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

اَللَّهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ عِلْمًا ناَفِعًا، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَناَ تَقْوَاهَا، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَء، وَدَرَكِ الشَّقَاء، وَسُوْءِ القَضَاء، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء.

اللَّهُمَّ أصْلِحْ لَناَ دِيْنَناَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِناَ، وأصْلِحْ لَناَ دُنْيَاناَ الَّتي فِيهَا مَعَاشُناَ، وأصْلِحْ لَناَ آخِرَتِناَ الَّتي فِيهَا مَعَادُناَ، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَناَ في كُلِّ خَيْر، وَاجْعَلِ الْمَوتَ رَاحَةً لَناَ مِنْ كُلِّ شَرّ.

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَان، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.

أَقِيْمُوا الصَّلاَة.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *