IkadiDIY.com

Naskah Khutbah Jumat 24 Mei 2024 Edisi 412, Ikadi DIY: MENGOPTIMALKAN AMAL SHALIH DAN MENGHINDARI KEZHALIMAN

MENGOPTIMALKAN AMAL SHALIH DAN MENGHINDARI KEZHALIMAN

Oleh: Ust. Muhamad Mujari, S.ST..

(Sekretaris 2, PW Ikadi DIY)

Download PDF dan Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّه، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَه، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَه , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْد؛

فَيَا عِبَادَ الله، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: ((يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ))

((يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا))

 

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Ketika pertama kali Allah menciptakan langit dan bumi, saat itu pula Allah menetapkan 12 bilangan bulan dan di antara 12 bulan itu ada 4 bulan haram. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu. (Q.s. At-Taubah: 36)

Apa saja empat bulan haram itu? Bulan-bulan haram itu adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Lalu apa yang dimaksud dengan bulan haram? Mari kita perhatikan penjelasan Ibnu Abbas, r.a., terkait bulan haram. Beliau berkata, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan mulia/suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan salih yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak”.

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Saat ini kita berada pada rangkaian bulan-bulan haram tersebut, yakni bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, disusul Rajab. Apa yang harus kita lakukan pada bulan-bulan haram tersebut? Berdasarkan kalam Allah dalam Alquran, penjelasan Rasulullah saw. dalam hadits dan pemaparan sahabat, kita pahami bahwa ada dua poin utama yang harus kita lakukan, yaitu optimalisasi amal salih dan menghindari kezaliman.

Pertama, kita diperintahkan untuk memuliakan bulan-bulan haram dengan mengoptimalkan amal salih. Kita memahami bahwa tidak ada amalan khusus di bulan haram, namun amal salih yang biasanya dilakukan hendaknya benar-benar dikerjakan lebih baik dan lebih banyak lagi. Agar kita mampu terus mengoptimalkan perintah Allah, maka kita harus menyakini bahwa Allah tidak memerintahkan sesuatu kecuali pasti di dalamnya ada kebaikan (mashlahat), sebagaimana perkataan Syaikh Al-Izzuddin bin Abdussalam,

وَمِنْ لُطْفِ الرَّحْمَنِ اَنَّهُ لَمْ يَأْمُرْنَا إلَّا فِيهِ مَصْلَحَةٌ فِي الدَّارَيْنِ أوْ احْدَ هُمَا وَلَمْ يَنْهَ عَنْهُ إلَّا عَمَّا فِيهِ مَفْسَدَةٌ فِي الدَّارَيْنِ أوْ احْدَ هُمَا

“Sebagian dari maha lembutnya Allah Ar-Rahman adalah bahwa Dia tidak memerintahkan sesuatu kecuali pasti di dalamnya ada maslahat (kebaikan) baik urusan dunia atau urusan akhirat atau kedua-duanya dan tidaklah Dia melarang sesuatu kecuali pasti di dalamnya ada keburukan (mafsadat) baik urusan dunia atau urusan akhirat atau kedua-duanya.”

Amal salih terkait dengan perintah meliputi dua jenis, yaitu amal dunia dan amal akhirat. Sebagai contoh amal dunia adalah makan, minum, tidur, bekerja, dan sejenisnya. Bentuk optimalisasi amal dunia seperti ini adalah dengan menjadikannya bernilai akhirat. Sebaliknya amal akhirat, seperti shalat, puasa, tilawah, shadaqah, zikir, dan sejenisnya, kita kawal tetap bernilai akhirat, jangan justru berubah menjadi bernilai dunia. Semua itu sangat dipengaruhi oleh niat dalam beramal. Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’lim Muta’allim pernah berkata,

كَمْ مِنْ عَمَلٍ يُتًصَوَّرُ بِصُورَةِ عَمَلِ الدُّنْيَا، ثُمَّ يَصِيرُ مِنْ أعْمَالِ الآخِرَةِ بِحُسْنِ النِّيَةِ ، وَكَمْ مِنْ عَمَلٍ يُتَصَوَّرُ بِصُورَةِ عَمَلِ الآخِرَةِ ثُمَّ يَصِيرُ مِنْ أعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوءِ النيةِ

“Betapa banyak amal perbuatan yang nampak sebagai amal dunia, lalu menjadi amal akhirat karena bagusnya niat dan betapa banyak amal perbuatan yang nampak sebagai amal akhirat, lalu menjadi amal dunia semata karena buruknyanya niat”

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Untuk mengawal keikhlasan amal dunia maupun amal akhirat, kita harus menyakini bahwa setiap amal itu hanya atas perintah Allah, artinya bos kita dalam setiap amal adalah Allah. Maka kita beramal semata-mata atas dasar perintah Allah dan menyakini bahwa yang mengawasi dan membalas hanyalah Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۚ

Dan katakanlah, “Beramallah kamu, maka Allah akan melihat amalmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.s. At-Taubah: 105).

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Kedua, kita dilarang berbuat kezaliman pada bulan-bulan haram tersebut. Secara tegas Allah melarang kita berbuat zalim, apapun bentuknya.

فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ

“maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu” (Q.s. At-Taubah: 36).

Larangan Allah ini diperkuat dengan firman Allah dalam hadits qudsi.

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. (H.r. Muslim).

Demikian juga, Rasulullah saw. mengingatkan kita agar menghindari kezaliman karena akan menjadi kegelapan di hari kiamat.

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat(H.r. Al Bukhari dan Muslim)

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Telah nyata, Allah larang kita berbuat kezaliman dalam bentuk apapun, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Lebih-lebih jika kezaliman itu dilakukan pada bulan-bulan haram. Qatadah berkata, “Kezaliman yang dilakukan pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya.”

Kezaliman kepada diri sendiri bisa berupa menyakiti diri, putus asa, bunuh diri, serta seluruh perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan kepada Allah. Puncak dari kezaliman ini adalah perbuatan menyekutukan Allah (syirik). Allah Ta’ala berfirman,

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutu-kan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.s. Luqman: 13).

Bentuk kezaliman lainnya yang harus kita hindari adalah zalim kepada orang lain. Dalam hal ini Rasulullah saw. menegaskan larangannya dalam sebuah hadits berikut ini.

إنَّ دِمَاءَكُمْ وَأمْوَالَكُمْ وَأعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, semuanya haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, bulan ini (bulan haram), di tanah kalian ini (tanah haram)’ (H.r. Bukhari dan Muslim).

Secara khusus Rasulullah saw. menyebut darah, harta, dan kehormatan. Ketiganya haram ditumpahkan, dirampas, dan dinodai. Oleh karena itu, membunuh, merampas, dan menodai kehormatan orang lain merupakan kezaliman yang sangat besar, yang harus kita hindari.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه. ((يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)).

((يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا)).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَكَرِيْمِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ سَيَّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلأَخِرِيْنَ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ . اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْن، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.

يَا رَبَّناَ وَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ ذُنُوْبَناَ وَلِوَالِدِيْناَ وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَوْناَ صِغَاراً

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءِ لَا يُسْتَجاَبُ لَهُ

اَللَّهُمَّ أَعِـزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْن، وَدَمِّـرْ أَعْـدَاءَ الدِّيْنِ، وَاخْذَلْ مَنْ خَـذَلَ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْن

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنَا دَوْلَةً كَريمَةً، يُعِزُّ بِهَا الإِسْلاَمُ وَأَهْلُهُ، وَيُذَلُّ بِهَا النِّفاقَ وَأَهْلُهُ، وَتَجْعَلُنَا فِيْهَا مِنَ الدُّعاةِ إِلَى طاعَتِكَ، وَالْقادَةِ إِلَى سَبيلِكَ، وَتَرْزُقُنا بِها كَرامَةَ الدُّنْيا وَالأَخِرَة

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَحَبِّبْ إِلَيْهِم الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوبِهِمْ، وَكَرِّهْ إِلَيْهِم الْكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِصْيَانَ، وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

أَقِيْمُوا الصَّلَاة..

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *