IkadiDIY.com

Naskah Khutbah Jumat 31 Mei 2024 Edisi 413, Ikadi DIY: MERAIH SURGA DENGAN MENDAWAMKAN IBADAH SUNNAH

MERAIH SURGA DENGAN MENDAWAMKAN IBADAH SUNNAH

Oleh: Ust. M, Abdullah Sholihun
(Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Islamic Center Seturan, DIY)

Download PDF dan Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلاَ ، يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى، وَسَنَّ النَّوَافِلَ لِعِبَادِهِ لِنَيْلِ الدَّرَجَةِ الْعُلَى،

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، وَلَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ اَلْهَادِى اِلَى جَنَّةِ الْمَأْوَى، وَمَنْ اِتَّبَعَ هُدَاهُ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّهِ الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاحِبِ مَقَامِ الْمَحْمُوْدِ عِنْدَ حَبِيْبِهِ الْعُلَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اقْتَفَى، وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

أَمَّا بَعْدُ ..، فَيَا عِبَادَ اللَّه، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم: يَآ أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Seorang Tabi’in agung, beliau adalah Ma’dan bin Abi Thalhah Al Ya’mariy, bercerita: Aku bertemu Tsauban, dia adalah hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh Rasulullah saw. Aku bertanya kepadanya, “Kabarkan kepadaku satu amal, ketika aku melakukannya, Allah akan memasukkan aku ke Surga.” Atau aku bertanya, “Kabarkan kepadaku dengan satu amal yang paling dicintai oleh Allah Swt.” Namun dia diam. Kemudian aku bertanya lagi, dan dia diam. Setelah itu, dia berkata, “Aku juga bertanya seperti itu kepada Rasulullah saw. Dan beliau menjawab, ‘Perbanyaklah sujud kepada Allah Swt. Tidaklah engkau sujud kepada Allah Swt. satu kali, melainkan Allah Swt. akan mengangkat derajatmu dan menghapus kesalahanmu.” (H.r. Muslim)

Diantara Rahmat dan Karunia Allah Swt. kepada para hamba-Nya yang beriman, Dia mensyari’atkan ibadah ibadah sunnah. Yakni, selain dari yang diwajibkan. Ibadah ibadah sunnah itu sebagai tambahan, menutupi kekurangan, menyempurnakan dan melengkapi dari ibadah yang wajib.  Serta memudahkan hadirnya pertolongan, meninggikan derajat dan cinta Allah Swt. Karenanya, tidak sepatutnya seorang muslim mengabaikan dan meremehkannya. Siapa pun yang mendawamkannya, jalan mudah baginya menuju surganya Allah Swt. Namun kerugian besar, bagi siapa pun yang meremehkan dan mengabaikannya.

Hal penting yang perlu diperhatikan, adalah ibadah dan ‘ubudiyah. Ibadah adalah aktivitas – aktivitas fisik yang Allah syari’atkan, seperti shalat, berpuasa, berdzikir dan lainnya. Sedang ‘ubudiyah adalah amalan batin; seperti ketundukan, rasa penghambaan dan kehinaan diri di hadapan Allah Swt., sehingga itu menghantarkan untuk meng-agungkan-Nya, mentaati-Nya, memuji-Nya dan mensucikan-Nya. Maksudnya, semua aktivitas ibadah ditujukan sebagai bentuk penghambaan seorang hamba kepada Allah Swt. Sehingga mengoptimalkan dan mendawamkan ibadah ibadah sunnah, adalah bagian dari wujud penghambaan seorang muslim kepada Allah Swt.

Di sisi lain, kualitas ibadah sangat tergantung pada kualitas ‘ubudiyah seorang muslim kepada Allah Swt. Ibadah ibadah sunah adalah wasilah untuk mencapai kualitas ‘ubudiyah. Karenanya, bertaqarrub kepada Allah Swt., wasilah terbaik, selain ibadah ibadah wajib, adalah mendawamkan ibadah ibadah sunnah.

 

Ma’syiral Muslimina Rahimakumullah

Dalam hadits Qudsi riwayat Al Bukharidari Abu Hurairah, Allah Swt. berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، ولا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ

“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih  Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Senantiasa hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang  dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada–Ku pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada–Ku pasti Aku akan melindunginya.”

Makna kalimat ‘perbanyaklah sujud’ pada hadits riwayat Ma’dan tersebut, adalah mendawamkan dan membiasakannya hingga menjadi adab dan perilaku. Demikian pula makna (ولا يَزَالُ) ‘senantiasa’, juga bermakna mendawamkan dan membiasakannya. Bahwa ibadah sunah harus dijaga keberlangsungannya.

Syekh Ibnu Baz berkata, “Maksud ‘perbanyaklah sujud’, adalah menguatkan ‘ubudiyah, memperbanyak dan mendawamkan ibadah – ibadah sunnah, seperti shalat Dhuha, tahajud, qabliyah dan ba’diyah. Maka seorang mukmin yang melakukan hal itu, akan mengantarkannya menuju ke Surga Allah, berteman dengan Nabi saw. di Surga dan mendapatkan syafa’at darinya.”

Menjaga keberlangsungan amal, salah satu tanda diterimanya amal seseorang. Al Imam Ibnu Katsir, ketika beliau menjelaskan ayat ke 7, yaitu : (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى), dia berkata:

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ : مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ اَلْحَسَنَةُ بَعْدَهَا وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ اَلسَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

Sebagian ulama salaf berkata: “Diantara pahala kebaikan adalah keberlangsungan kebaikan setelahnya. Demikian pula, balasan keburukan, adalah keberlangsungannya keburukan setelahnya.

Ibnu Rajab Al Hanbali dalam kitab Latha’iful Ma’arif, berkata: “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan, namun ia melanjutkan dengan amalan keburukan, maka itu tanda ditolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

Hal yang disunnahkan oleh Nabi saw., beliau menjaga amal secara kontinyu. Pada riwayat Al Bukhari diceritakan dari A’isyah ra, “Rasulullah saw. tidak melaksanakan puasa (sunnah) lebih banyak dalam sebulan selain bulan Sya’ban. Beliau melaksanakan puasa sebulan penuh.” Beliau bersabda, “Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan berpaling (dalam memberikan pahala) sampai kalian yang lebih dahulu berpaling (dari mengerjakan amal).” Dan shalat yang paling Nabi saw. cintai adalah shalat yang dijaga kesinambungannya sekalipun sedikit. Dan jika beliau sudah biasa melaksanakan shalat (sunnat) beliau menjaga kesinambungannya.” (H.r. Al Bukhari)

 

Ma’syiral Muslimina Rahimakumullah

Di antara kelebihan satu amal dengan amal yang lain adalah yang kontinyu dilakukan. Aktivitas ibadah yang kontinyu itu akan mengungguli yang tidak kontinyu . Rasulullah saw. bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah Swt. adalah yang kontinyu, meskipun sedikit.” (H.r. Al Bukhari)

Pada Riwayat lain disebutkan, Rasulullah saw. bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

“Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan hingga kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu, walaupun sedikit.” (H.r. Muslim)

Ibnu Rajab Al Hanbali berkata, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut, agar kita bisa pertengahan dalam beramal dan berusaha melakukan sesuai dengan kemampuan. Karena ama yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin, meskipun sedikit.”

Dia juga berkata, “Amal yang dilakukan oleh Nabi saw. adalah yang terus menerus dilakukan. Nabi juga melarang memutuskan amal dan meninggalkannya. Sebagaimana beliau melarang melakukan hal ini pada ‘Abdullah bin ‘Umar.” Beliau bersabda, “Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (H.r. Al Bukhari)

Hasan Al Bashri  berkata, “Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya.”

Dia juga berkata : “Jika syaithan melihatmu kontinyu dalam melakukan amal ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, bahkan hanya sesekali saja, maka syaithan pun akan semakin kuat menggodamu.”

 

Ma’syiral Muslimina Rahimakumullah

Ada banyak keutamaan bagi seorang muslim yang menjada rutinitas amalnya. Diantaranya:

Pertama, amal tersebut menjadi langgeng, artinya tetap ada. Dalam syarah Shahih Muslim, Imam An Nawawi berkata: “Ketahuilah! amal sedikit namun rutin, itu lebih baik daripada amal banyak, namun sesekali dilakukan. Sebab itu dapat melanggengkan amal ketaatan, dzikir dan pendekatan diri pada Allah. Niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan menjadikan amal tersebut diterima oleh Allah Swt. Selain itu, juga memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amal sedikit, namun sesekali saja dilakukan.”

Kedua, amal yang rutin tetap mendapat pahala. Berbeda dengan amal yang dilakukan sesekali saja, pahalanya akan terhenti pada waktu dia beramal. Renungkan, jika amal tersebut dilakukan terus menerus, maka pahalanya akan terus pula, meskipun yang dilakukan sedikit.

Ibnu Rajab Al Hanbali berkata, “Sesungguhnya seorang hamba hanya akan diberi balasan sesuai amal yang ia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amal –bukan karena udzur syar’i, seperti sakit, bersafar, atau keadaan fisik yang lemah, maka akan terputus pahalanya. Jika ia meninggalkan amal tersebut. Namun bila seseorang meninggalkan amal shaleh yang biasa dia rutinkan karena sakit, tidak mampu melakukannya, dalam keadaan bersafar atau udzur syar’i lainnya, maka dia akan tetap memperoleh pahalanya.

Nabi saw. bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amal sebagaimana amal rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (H.r. Al Bukhari)

Ketiga, menghilangkan kejenuhan. Jika seseorang beramal sesekali dan banyak, kadang muncul rasa malas dan jenuh. Rasulullah saw. bersabda,

وَلِكُلِّ عَمِلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ ، فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ، فَقَدْ ضَلَّ

“Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi saw., maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (H.r. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Hasan Al Bashri berkata, “Sesungguhnya bangunan di surga dibangun oleh para Malaikat disebabkan dzikir yang terus dilakukan. Bila seorang hamba mengalami rasa jenuh untuk berdzikir, maka malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya. Lantas malaikat pun mengatakan, ‘Apa yang terjadi padamu, wahai fulan?’ Sebab malaikat bisa menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berdzikir tadi mengalami kefuturan (kemalasan) dalam beramal.”

 

 

Ma’syiral Muslimina Rahimakumullah

Betapa besar pengaruh amal yang jaga secara rutin. Ibadah sunnah yang diistikamahkan. Sungguh banyak manfaat dan keutamaan yang tidak dapat kami sampaikan di khutbah yang pendek ini. Meskipun demikian, semoga yang sedikit ini dapat memberikan nasehat untuk kita semua, agar mengingat kembali, betapa pentingnya menjaga dan mendawamkan ibadah -badah sunnah. Semoga Allah Swt. memberikan taufq-Nya kepada kita semua. Amin

 

بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم ، إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّحِيْم ، وَقُلْ رَّبِ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْن

 

Khutbah Kedua

 

الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ احْفَظْ أَرْوَاحَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، وَرَدَّهُمْ إِلَى أَهْلِهِمْ مَرَدًّا كَرِيْمًا آمِنًا، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنَ وَفِى بِلَادِ الشَّامِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ ، اَللَّهُمَّ إِنِّي نَسْتَوْدِعُكَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ وَأَهْلَ الْقُدْسِ وَكُلِّ فِلِسْطِيْن، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَنَصِيْرًا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *