IkadiDIY.com

SARANA BERTHAHARAH

SARANA BERTHAHARAH

Oleh: Ust. Sulkhan Zainuri, Lc., MA.

 

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Dzat Yang menurunkan air dari langit yang menjadikan segala sesuatu menjadi hidup. Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan kepada Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah menunjukkan kepada kita tata cara beribadah kepada Allah.

Allah Subhanahu wata’ala menyediakan air sebagai sumber kehidupan dan juga untuk menjaga kebersihan, sebagaimana firman Allah,

…وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“…Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka, tidakkah mereka beriman?(Q.s. Al-Anbiya’: 30)

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami turunkan dari langit air yang sangat suci.” (Q.s. Al-Furqon: 48)

Ayat dalam Surat Al-Furqon ini menegaskan kepada kita bahwa air merupakan salah satu sarana untuk berthaharah (bersuci) baik dari hadats maupun najis.

 

Sarana berthaharah (bersuci)

Untuk bersuci dari hadats kecil maupun besar, maka harus menggunakan air yang suci dan mensucikan, jika mampu melakukannya. Dalam kondisi tidak mampu menggunakan air, baik karena tidak ada air atau karena sakit yang membuatnya tidak boleh terkena air, maka digantikan dengan debu.

1. Air.

Air yang bisa digunakan untuk bersuci adalah:

  1. Air Muthlaq
  2. Air Laut
  3. Air Salju
  4. Air Embun
  5. Air Mata air

Firman Allah,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan.” (Q.s. Al-Anfal: 11)

Sabda Rasulullah,

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ يَقُولُ: سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ، وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ، فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ))

(رواه مالك، وأبو داود، والترمذي، والنسائي، وابن ماجه، وأحمد)

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mengarungi lautan dan kami hanya membawa sedikit air, jika kami gunakan air itu untuk wudlu maka kami akan kehausan. Lalu apakah kami boleh berwudlu dengan air laut?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (Hr. Malik, Abu Dawud, at-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Sabda Rasulullah,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلَاةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah R.A. berkata, Bahwasanya Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam apabila selesai bertakbir dalam shalat diam sejenak sebelum membaca surat,  kemudian saya bertanya kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam : Wahai Rasulullah Salallahu’alaihi wasallam ketika engkau diam antara Takbir dan bacaan surat apa yang engkau baca? Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam bersabda: Aku membaca:  Ya Allah jauhkankanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana engkau jauhkan antara timur dan barat, ya Allah bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana bersihnya baju butih dari kotoran, ya Allah basuhlah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.(Muttafaq Alaih)

Hadis riwayat Ali bin Abi Thalib yang sangat panjang, diantaranya beliau mengatakan:

فَدَعَا بِسَجْلٍ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشَرِبَ مِنْهُ وَتَوَضَّأَ

“Bahwasanya Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam meminta satu ember air zamzam, kemudian beliau meminumnya dan berwudhu dengannya.” (H.r. Ahmad)

 

2. Debu, firman Allah,

أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

…atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (Q.s. An-Nisa’: 43)

Sabda Rasulullah,

جُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Dianugerahkan untukku tanah sebagai masjid (tempat shalat) dan untuk bersuci.” (Muttafaq Alaih)

Sedangkan untuk bersuci dari najis yang keluar dari dua jalan kemaluan maka selain menggunakan air, bisa juga menggunakan benda-benda lain yang bisa mensucikan. Para ulama memberikan 5 syarat agar suatu benda bisa digunakan untuk bersuci dari najis (istijmar) yaitu:

  1. Minimal berjumlah 3 buah
  2. Benda tersebut dalam keadaan suci
  3. Benda tersebut bisa membersihkan najis
  4. Benda tersebut padat dan tidak cair
  5. Bukan tulang dan kotoran.

Dengan lima syarat ini, maka banyak benda yang bisa menggantikan air untuk bersuci dari najis seperti, batu, dedaunan, kayu, besi dll.

Sabda Rasulullah,

عَنْ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الِاسْتِطَابَةِ فَقَالَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ لَيْسَ فِيهَا رَجِيعٌ

“Dari Khuzaimah bin Tsabit RA, dia berkata, ‘Rasulullah SAW pernah ditanya tentang bersuci setelah buang air besar, lalu beliau SA W besabda, ‘Dengan tiga batu, dan tidak boleh dengan kotoran binatang. (H.r. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Dari beberapa keterangan di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa bersuci bisa dilakukan dengan berbagai sarana, termasuk untuk saat ini bisa menggunakan tisu baik basah basah maupun kering, selama dalam keadaan  suci.

Penutup

Dari paparan di atas menunjukkan kepada fleksibilitas syari’at Islam dalam masalah thaharah dengan memberikan pilihan untuk berthaharah menggunakan benda-benda yang memenuhi syarat, selain air yang kita gunakan dalam kondisi normal. Ini menunjukkan, bahwa Islam adalah adalam yang mudah dan tidak membebani umatnya. Firman Allah,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu… (Q.s. Al-Baqarah: 185)

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *