IkadiDIY.com

TANGGUNG JAWAB DAI

Saya teringat cerita wartawan senior, almarhum Rosihan Anwar. Juli 1949. Pada hari ketujuh bulan itu, dengan Landrover yang dikendarai Pak Harto, letkol saat itu, Rosihan, dan wartawan foto Ipphos, Frans S Mendur berangkat ke arah Wonosari. Mereka menuju Ponjong untuk menjemput Panglima Besar Jenderal Soedirman yang terus memimpin perang gerilya. Pak Harto datang membawa pesan Sri Sultan HB IX agar Pak Dirman kembali ke Yogya. Permintaan Bung Karno agar Pak Dirman kembali ke Yogya tak pernah ditanggapi. Tapi pesan dari Ngarsa Dalem HB IX itulah yang dipertimbangkan Pak Dirman untuk kembali ke Yogya dari wilayah gerilya.

 

Beliau berseberang jalan dengan Pak Karno. Ketika agresi militer Belanda tertuju ke Yogya, Pak Dirman dalam sakitnya mengajak Bung Karno menempuh jalan gerilya, seperti pernah dijanjikan Bung Karno. Tapi begitulah, dunia politik selalu berwajah liat. Bung Karno menolak. Ia malah berusaha meyakinkan Pak Dirman kalau keadaan terkendali. “Tak ada sesuatu yang genting. Pulang saja, istirahat,” kata Bung Karno. Saya membayangkan betapa geramnya Pak Dirman. Ia menagih janji Bung Karno yang pernah bilang akan memimpin gerilya kalau Belanda menyerang Yogya.

 

Pagi 19 Desember 1948, Pak Dirman tak bisa dicegah. Dengan separuh paru-paru ia tempuhi jalan gerilya. “Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tak pernah sakit,” tegasnya. Sekira delapan bulan beliau ditandu keluar masuk hutan mengonsolidasikan pasukan dan memimpin perlawanan. Juli 1949 atas desakan Ngarsa Dalem HB IX, beliau baru bersedia kembali ke Yogya.

 

Kita belajar pada Pak Dirman tentang tanggung jawab (ruhul mas’uliyah). Mereka yang bertanggung jawab, biasanya sanggup melampaui seluruh keterbatasan di dalam diri mereka. Pribadi seperti itu selalu menemukan cara untuk menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, mereka yang tuna tanggung jawab, cenderung menemukan seribu alasan untuk menghindari tugas. Para dai menyadari bahwa tugas berdakwah adalah tanggung jawab yang mesti ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Surat tugasnya langsung dari Allah Swt.

 

Adalah Jad bin Qais, lelaki dari Bani Salamah itu, ditemui Rasulullah saw. sebelum berangkat ke Tabuk. “Hai Jad, bisakah engkau berada di kabilah Jallad bin Ashfar selama setahun?”

 

Lelaki itu terdiam. Ia terlihat gusar untuk kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, izinkan saya dan janganlah memfitnahku. Demi Allah, kaumku sangat memahami bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang lebih berat kekagumannya pada wanita melebihi aku. Aku khawatir ketika melihat wanita-wanita Bani Ashfar, tidak dapat menahan diri.” Perintah Rasulullah itu ingin dihindarinya. Dengan bahasa yang halus dan alasan yang terasa penuh kebaikan, ia mengelak. Selalu ada alasan untuk mangkir bagi mereka yang tuna tanggung jawab.

 

“Aku izinkan,” kata Rasulullah sambil berpaling dari Jad bin Qais. Laki-laki pengelak itu tersenyum lega. Ia merasa berhasil menghindar dari tugas yang diberikan Rasulullah. Tapi, Allah Swt. mengecam kelakuannya.

 

Di antara mereka ada orang-orang yang berkata, berilah saya izin (untuk tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.” (Q.s. At-Taubah [9]:49).

 

Ayat di atas memberikan kecaman keras terhadap orang-orang munafik yang mengelak dari tugas-tugas dakwah. Teramat keras. Bukan karena dakwah menolak setiap udzur. Sama sekali tidak. Allah Swt. mengecam Jad bin Qais karena ia beralasan dengan mengada-ada. Ia mengelak dari tugas dengan dalih yang dibuat-buat. Inti sebenarnya adalah kendornya semangat dan rapuhnya keimanan. Wujud yang dapat dideteksi adalah kebiasaan untuk menghindari keterlibatan dalam dakwah, segala aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, dan aktivitas mentarbiyah umat.

 

Sebagian orang enggan memenuhi tugas dakwah dengan mengusung alasan kesibukan bisnis, kerja, atau urusan keluarga (Lihat Q.s. Al-Fath: 11 atau Q.s. Al Ahzab: 13). Kerja-kerja dakwah hanya menjadi samben. Ia tidak menjadi prioritas. Bahkan, kadangkala ia tergeser oleh kesibukan-kesibukan yang lain. Tanggung jawab para dai memang tidak ringan. Nyaris ia harus hadir 24 jam dalam setiap persoalan keumatan. Mereka tidak sekadar pembicara di atas podium yang hanya membutuhkan dua hingga tiga jam menyapa audien. Para dai sejati hadir di tengah umat. Di negeri ini jumlah mereka banyak. Kadang, pagi hari mereka berangkat ke sawah. Pulang menjelang dzuhur untuk azan di mushalla kecil dekat rumah. Malam hari membersamai tadarusan jamaah, dan begitu seterusnya. Ia tidak banyak dikenal, tapi dai seperti ini hadir nyata di tengah umat. Tanggung jawablah yang menghadirkan mereka.

 

Dari Pak Dirman kita belajar. Tugas mesti ditunaikan seberat apapun ia dirasakan. Kita mengenang beliau karena sikapnya yang bertanggung jawab. “Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tak pernah sakit.” Memang, jika benar-benar sakit, itu bagian udzur yang dipahami. Tapi kita merenung, betapa banyak di antara kita mengabaikan panggilan berdakwah karena tak benar-benar ada udzur. Seseorang abai untuk menjadi khatib di daerah pelosok karena sedang malas, bukan karena ada halangan yang dibenarkan. Seseorang enggan mengisi kajian rutin di sebuah mushalla dengan jamaah yang dapat dihitung jari, tanpa alasan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Jika setiap dai mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab (ruhul mas’uliyah) di dalam dirinya, tugas-tugas dakwah insya Allah akan lebih ringan untuk dipikul bersama. Kita tunaikan kerja-kerja dakwah karena menyadari tugas ini harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala. Kadang ada perasaan lelah dan sendiri. Kadang, kita ingin sekali rehat dari semua beban-beban ini. Tapi tiap kali rasa malas dan dorongan untuk rehat itu muncul, kisah Imam Ahmad semoga memberikan dorongan pada kita untuk terus beramal.

 

سئل الإمام أحمد بن حنبل : متى الراحة يا إمام ؟ فأجاب : عند أول قدم تضعها في الجنة

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya, “Wahai imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau menjawab, “(Istirahat yang sesungguhnya ialah) pada saat engkau untuk kali pertama menginjakkan kaki di surga.” []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *