IkadiDIY.com

Naskah Khutbah Jumat 3 Desember 2021 Edisi 282, Ikadi DIY: ADAB SEORANG MUSLIM SAAT MENGHADAPI HUJAN

ADAB SEORANG MUSLIM SAAT MENGHADAPI HUJAN

Oleh: Dwi Budiyanto, M.Hum.

(Ketua Bidang Pelatihan dan Dakwah DPW Ikadi DIY)

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

Download MS Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكا، فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الْأَرْضِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتُ الْعُلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، الْمَبْعُوْثَ لِلنَّاسِ هَادِيًا وَدَلِيْلا.

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدا.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِالتَقْوَى، فَهِيَ الزَّادُ فِي الدُّنْيَا، وَالنَّجَاةُ فِي الْأُخْرَى، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ))

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Ada yang harus kita ingat dari pesan Rasulullah saw. saat kita berada di musim penghujan. Pesan agar kita memperhatikan adab ketika berhadapan dengan hujan. Tak ada agama yang sedemikian detail mengatur urusan hujan, sebagaimana Islam memandu kita. Dengan adab yang benar, sebagaimana bimbingan Rasulullah saw., insya Allah musim hujan akan selalu mendekatkan kita pada keimanan. Sebaliknya, sikap yang salah saat berhadapan dengan hujan akan menjerumuskan kita pada dosa.

Tradisi keimanan memandu setiap muslim untuk meyakini bahwa hujan adalah kebarakahan dari Allah Swt. Itulah sebabnya, kita menemukan tradisi unik pada beberapa orang sahabat, mereka bersuka cita tatkala hujan turun. Mereka berusaha untuk meraup kebarakahan dari turunnya hujan. Ibnu Abbas r.a., salah seorang sahabat Rasulullah saw. dikisahkan memiliki kebiasaan unik setiap turun hujan.

أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: يَا جَارِيَةُ! أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: ((وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً)) 

Apabila turun hujan, beliau mengatakan, ”Wahai pelayan, keluarkanlah pelanaku, juga bajuku.” Lalu beliau membacakan (ayat), ”Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barakah (banyak manfaatnya)” (Q.s. Qaaf: 9).(H.r. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad

 

Ibnu Abbas r.a. menyadari sepenuh keimanan bahwa hujan adalah kebarakahan dari Allah Swt., sebagaimana firman-Nya: wa nazzalnaa minas-samaai maa-an mubaarakan (Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh kebarakahan). Jadi, kesadaran pertama yang harus dimiliki seorang muslim saat berhadapan dengan hujan adalah meyakini hujan yang Allah Swt. turunkan merupakan rahmat dan kebarakahan yang harus disyukuri. Kesadaran tersebut diikuti oleh kebiasaan untuk mencari kebarakahan atau ngalap berkah (tabarruk) dengan mengenai (sebagian) anggota badan dengan air hujan. Ini merupakan bentuk tabarruk yang diperkenankan oleh syariat, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya. Setelah itu, beliau guyur badannya dengan hujan. Kami pun bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” (H.r. Muslim).

Terkait hadis tersebut, Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa ternyata hujan itu rahmat. Rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi saw. ber-tabarruk (mengambil berkah) darinya. Dengan demikian, layakkah seorang muslim mencela hujan? Tentu tidak layak. Sayangnya, kita sering lupa. Dengan enteng lisan kita gampang mencela hujan. “Duh hujan lagi! Celaka, hujan lagi!” Alih-alih mensyukuri turunnya hujan, banyak di antara kita malah terbiasa mengutuk hujan. Sungguh, seorang muslim diajari untuk tidak gampang mengutuk keadaan, termasuk hujan salah satunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka serta tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (H.r. Al-Bukhari)

Saat berhadapan dengan hujan, ternyata ada yang perlu kita luruskan dari cara pandang kita dan ada yang harus kita benahi dari kebiasaan lisan kita. Hujan adalah rahmat dan kebarakahan dari Allah yang harus kita sikapi dengan rasa syukur. Jadi, mulai sekarang, saat kita berhadapan dengan hujan atau secara kebetulan kehujanan, syukuri bahwa Allah sedang melimpahkan kebarakahan untuk kita.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Hujan juga memantik setiap muslim untuk semakin mengingat Allah Swt. Salah satu yang diteladankan Rasulullah saw. adalah memanjatkan doa ketika turun hujan. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

 Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an  (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)” (H.r. Al-Bukhari).

Seorang muslim tidak sibuk berkeluh kesah ketika turun hujan. Ia mengisi waktunya untuk berdoa kepada Allah Swt., memohon diturunkannya banyak manfaat bersebab hujan yang dikaruniakan Allah Swt. Setiap peristiwa selalu dalam kendali dan kuasa Allah Ta’ala, termasuk saat hujan turun. Kesadaran ini mendorong setiap muslim untuk selalu berharap manfaat dan kebarakahan dari Allah Swt. Selain itu, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa saat turunnya hujan merupakan waktu yang tepat untuk berdoa. Itulah waktu yang menjadikan setiap doa tidak tertolak. Dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّان: الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ، وتَحْتَ المَطَرِ

“Dua doa yang tidak akan ditolak: [1] doa ketika adzan dan [2] doa ketika ketika turunnya hujan.” (H.r. Al-Hakim dan  ath-Thabrani dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Dengan demikian, saat hujan adalah saat yang patut disyukuri karena Allah Swt. membuka peluang pada setiap muslim untuk senantiasa terhubung dengan Allah Swt. melalui doa-doa. Seringkali hal ini terlupa. Kita amat berhajat pada Allah Swt., tetapi ketika Allah Swt. membuka peluang untuk konsultasi melalui doa-doa yang tak tertolak, sebagian kita malah abai dan tidak memanfaatkan dengan baik. Rasulullah saw. memberikan teladan bahwa begitu hujan, kita dianjurkan untuk berdoa, memohon kebermanfaatan. 

Setelah selesai hujan, kita juga diajarkan untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan menisbatkan berkah dan rahmat berupa hujan kepada Allah Ta’ala, bukan kepada selain-Nya.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, Nabi saw. melakukan salat subuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jamaah salat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Para sahabat menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah saw. bersabda,

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ 

“Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah hadis tersebut menjelaskan bahwa mengucapkan, “Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah) setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang diberikan.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Demikian, beberapa adab yang harus diperhatikan saat seorang muslim berhadapan dengan hujan. (1) Sadari dan yakini bahwa hujan merupakan kebarakahan, (2) Syukuri karunia hujan, dengan cara yang tepat. Salah satunya dengan ngalap berkah, yaitu membiarkan sebagian anggota tubuh terguyur air hujan, (3) Berdoa saat hujan turun: Allahumma shoyyiban nafi’an  (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)”, dan (4) Memperbanyak doa, sebab saat hujan adalah waktu dikabulkannya doa-doa. (5) Mensyukuri dan menisbatkan karunia hujan kepada Allah setelah hujan turun. 

Mari kita mulai dengan membiasakan hal-hal kecil dan sederhana saat berhadapan dengan hujan; Semoga Allah ridlai dan berkahi kita semua. 

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ اَلدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.

أَمَّا بَعْد؛

فَيَا عَبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَـمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون.

ثُمَّ صَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْفَضْلِ الْكَبِيْر. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: ((إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا))

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعَيْن، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنـِّكَ وَكَرِمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن .

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإسَلَامَ وَالْمُسْلِمِيْن وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْن

اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُورِنَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

أَقِيْمُوا الصَّلَاة…

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *