IkadiDIY.com

Naskah Khutbah Jumat 10 Desember 2021 Edisi 283, Ikadi DIY: SIKAP KITA DALAM BERDOA

SIKAP KITA DALAM BERDOA

Oleh: Ust. Deden A. Herdiansyah, M.Hum

(Bidang Dakwah, PW Ikadi DIY)

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

Download MS Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَ عِبَادَهُ بِالدُّعَاء، وَأَسْبَغَ عَلَيْهِمُ النَّعْمَاء، وَدَفَعَ عَنْهُمُ اللَّأْوَاء. 

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه، مُجِيْبُ الدُّعَاءِ وَكَاشِفُ الْبَلَاء، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، كَانَ لِلْبَشَرِيَّةِ رَحْمَةٌ وَلِلْعَالَمِ ضِيَاء.

 اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الِّلقَاء.

أَمَّا بَعْد؛

 فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: «يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ»

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Doa adalah ibadah. Dia merupakan tanda keimanan seseorang dan penyerahan dirinya di hadapan Allah. Oleh sebab itu, sikap kita dalam berdoa benar-benar harus diperhatikan agar doa kita diterima dengan baik oleh Allah.

Di antara sikap yang harus kita tunjukkan kepada Allah dalam berdoa adalah tidak kecewa dengan apa pun yang menjadi jawaban Allah atas doa kita. Sebagai hamba yang beriman kita meyakini bahwa setiap keputusan dan kehendak Allah mengandung kebaikan di dalamnya. Lebih dari itu, Allah Maha Mengetahui keputusan yang terbaik untuk hamba-Nya. Sedangkan kita, tidak mengetahui apa yang sebenarnya terbaik untuk kita.

Ketika kita berdoa, berbagai permintaan kita haturkan kepada Allah yang menurut pandangan kita baik untuk diri kita. Namun, permintaan itu bisa jadi buruk untuk kita dalam pandangan Allah. Dalam konteks ukuran baik dan buruk tentu kita mengedepankan pandangan Allah daripada pandangan kita. Sebab Allah adalah pemilik kebenaran, sedangkan kita makhluk dengan banyak kekurangan dan kelemahan.

Serahkan saja jawaban dari doa-doa kita kepada Allah. Biarlah Allah yang menentukan segala sesuatu yang terbaik untuk diri kita. Adapun kita, pasrah dan menerima segala keputusan Allah. Bukankah berdoa itu memang sejak awal dimaksudkan untuk membuktikan ketergantungan kita pada Allah?

Benar, berdoa adalah cara kita untuk menunjukkan kelemahan diri kita di hadapan Allah sekaligus membuktikan bahwa kita sangat bergantung padanya. Tidak ada daya dan upaya tanpa pertolongan dan belas kasih-Nya. Dengan cara itulah kita berharap dapat mengetuk pintu kasih sayang Sang Rahman.

Ketika kita berdoa tentu bukan dimaksudkan untuk memberitahu daftar keinginan kita kepada Allah. Sungguh Allah Mahatahu segala sesuatu. Bahkan, sebelum kita menyebutkan keinginan dan harapan kita, Allah sudah mengetahuinya sejak awal. Sekali lagi, kita berdoa bukan untuk memberitahu keinginan-keinginan kita kepada Allah, tetapi untuk menunjukkan kebutuhan dan ketergantungan kita pada Allah.

Dengan pemahaman yang demikian, insya Allah, kita tidak akan kecewa terhadap jawaban Allah atas doa kita. Apa pun yang Allah berikan dan dengan cara apa pun Allah memberikannya, tidak ada rasa kecewa dalam diri kita. Kita menerimanya dengan ikhlas dan ridha. 

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Sikap itulah yang telah diajarkan para nabi. Salah satunya dicontohkan oleh Nabi Zakariya. Beliau mengatakan kepada Allah dalam doanya,

قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (Q.s. Maryam: 4).

Nabi Zakariya mengawali doanya dengan pernyataan bahwa beliau tidak pernah merasa kecewa terhadap semua pemberian dan keputusan Allah. Saat itu usianya telah tua; tulang-tulangnya telah lemah dan memutih rambutnya dikarenakan uban. Namun, hingga di usianya itu Nabi Zakariya belum kunjung diberikan keturunan. Artinya, beliau telah melewati kehidupan yang cukup panjang, tetapi harapannya untuk mendapatkan keturunan belum dikabulkan oleh Allah. Tetapi selama rentang waktu itu dan dalam keadaan seperti itu beliau tidak pernah kecewa atas keputusan-keputusan Allah atas hidupnya.   

Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim. Beliau berkata kepada kaumnya, bahwa beliau akan berdoa kepada Allah, dan beliau berharap tidak menunjukkan kekecewaan kepada Allah atas doanya.  

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاء رَبِّي شَقِيًّا

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku. (Q.s. Maryam: 48).

Nabi Ibrahim telah berjuang untuk mengajak kaum dan keluarganya kepada jalan keimanan. Tetapi sikap kaum dan keluarganya justru menolak ajakannya itu. Tentu Nabi Ibrahim juga telah berdoa kepada Allah untuk meminta pertolongan-Nya. Namun, kaum dan keluarganya, bahkan ayahnya, tetap saja tidak mau mengikuti ajakannya. Terhadap kehendak Allah itu Nabi Ibrahim tidak merasa kecewa.  

Kata “syaqi” (kecewa) dalam kedua ayat di atas berasal dari akar kata yang sama dengan kata syaqiya – yasyqa syiqawahsyaqawahsyiqwah, yang artinya kemalangan, kecelakaan atau lawan dari kebahagiaan. Dengan demikian kata syaqi dalam ayat di atas mengandung semua makna itu. Nabi Zakariya dan Nabi Ibrahim tidak merasa kecewa, celaka, malang dan bersedih terhadap keputusan Allah atas doa mereka. Keduanya telah menjadi contoh yang agung dalam sikap ketika berdoa.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Orang-orang yang kecewa terhadap jawaban Allah atas doa mereka sering kali lupa, bahwa pemberian Allah jauh lebih banyak daripada yang mereka minta. Bahkan ada banyak pemberian Allah yang diberikan tanpa kita minta. Mereka hanya fokus pada apa yang tidak mereka dapatkan di tengah hamparan pemberian Allah yang telah mereka dapatkan.

Sesungguhnya, sama sekali tidak ada kerugian bagi orang yang berdoa. Hanya ada kemungkinan-kemungkinan kebaikan bagi mereka. Hal ini sesuai dengan hadis yang disabdakan oleh Rasulllah Saw. yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim. Pertama, doa mereka dikabulkan Allah sesuai dengan permintaan. Kedua, Allah tidak mengabulkannya di dunia, tetapi dijadikan sebagai tabungan kebaikannya di akhirat. Ketiga, Allah jauhkan darinya keburukan yang setimpal dengan doanya.

Oleh sebab itulah orang-orang yang beriman dan mengenal Allah dengan baik tidak akan pernah kecewa dalam doanya. Mereka tetap meminta kepada Allah dengan mengiba-iba; merendahkan dirinya serendah-rendahnya, tetapi mereka memasrahkan pengabulannya kepada Allah. Perhatikanlah sekali lagi doa seorang nabi yang mulia, Musa ’alayhissalam, saat dirinya berpasrah kepada Allah setelah mengalami peristiwa yang cukup berat dalam hidupnya:

رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (Q.s. Al-Qashash: 24).

Nabi Musa mengatakan bahwa apa pun kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya adalah sesuatu yang dibutuhkannya. Kalimat yang diucapkan Nabi Musa merupakan permohonan sekaligus ungkapan syukur atas segala pemberian Allah. Bahkan, dalam keadaan sulit sekali pun nabi Musa tetap mampu menunjukkan rasa syukurnya.

Dalam doanya Nabi Musa menyebut dirinya sebagai “faqir” di hadapan Allah. Faqir menurut jumhur ulama merupakan keadaan yang lebih lemah dari keadaan miskin. Faqir adalah orang yang tidak memiliki apa pun dalam hidupnya. Dia sangat bergantung dari pemberian orang lain terhadap dirinya. 

Dalam hubungan kita dengan Allah, kita adalah al-faqir yang sangat bergantung pada kasih sayang Allah. Oleh sebab itu, teruslah berdoa kepada Allah. Mintalah apa pun kepada-Nya. Tetapi, serahkanlah pengabulannya kepada Allah. Sebab Allah adalah Dzat yang Mahatahu, Mahabijaksana dan Dzat yang teramat besar kasih sayang-Nya.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالِّذكْرِ الْحَكِيمِ ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِه، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِه.

صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأعْوَانِه.

 أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوىَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. «يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ»

«إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً»

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ، سَيِّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلأَخِرِيْنَ، وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَات.

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْـمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ، وَاْلوَبَاءَ، وَالزَّلاَزِلَ، وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّة، وَسَائِرِ بِلاَدِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّء الْأَسْقَامِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

رَبَنَا آتِنَا في الدُنْياَ حَسَنَةَ وفي الآخِرَةِ حَسَنَةَ وقِنَا عَذَابَ النَّار.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِين، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *