IkadiDIY.com

Naskah Khutbah Jumat 29 Oktober 2021 Edisi 277, Ikadi DIY: MENGIKUTI KEBENARAN DAN MENJAUHI KEBATILAN

MENGIKUTI KEBENARAN DAN MENJAUHI KEBATILAN

Oleh: Ust. Arfiansyah Harahap, Lc., M.Pd.I

(Bidang Pendidikan, PW Ikadi DIY)

 

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

Download MS Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان، وحَرَّمَ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَان، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِه، وَجَعَلَهُ بَيْنَ الْعِبَادِ مُحَرَّمًا.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أَنْقَذَ الْأُمَّةَ مِنَ الضَّلَال، وَهَدَى إِلَى أَشْرَفِ الْخِصَال، وَأَمَرَ بِالْعَدْل، وَحَذَّرَ مِنَ الظُّلْمِ فِي الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَال.

صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْه، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْمَيَامِيْن، وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَاتَّقُوا اللهَ أَيُّهَا النَّاس، فَإِنَّهَا خَيْرُ الْوَصَايَا فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ: “اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ”، وَلَيْسَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْوَصِيَّةِ بِهَا. إِنَّ تَقْوَى اللَّهِ تُورِثُ الْمَرْءَ فِي الدُّنْيَا انْشِرَاحًا وَانْبِسَاطًا، وَفِي الْآخِرَةِ فَوْزًا وَفَلاَحًا ﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

 

Hadirin rahimakumullah,

Pada akhir-akhir ini, kita menyaksikan munculnya fenomena kebohongan dan pemutar balikkan fakta. Yang salah dianggap benar dan yang benar dianggap salah. Kesalahan yang dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuatan politik dianggap biasa dan layak diselamatkan. Sedangkan bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan politik akan langsung ditegakkan hukuman ke atasnya walau kebenaran berkata sebaliknya. Termasuk dari fenomena ini juga adalah usaha untuk mengaburkan sejarah yang dilakukan oleh mereka yang tidak ingin NKRI menjadi negara yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945.

Hal ini berefek negatif terhadap sebagian orang yang imannya masih tergantung kepada harta dan rupiah, kedudukan dan jabatan serta ketenaran dan popularitas. Lebih dari itu, fenomena ini tidak jarang membuat sebagian orang menukar yang haqq dengan yang bathil, menggadaikan iman dengan dunia, bahkan sampai menukar agama secara nyata, terang-terangan dan diumumkan di media massa.

 

Hadirin rahimakumullah,

Masa ini disebut oleh sebagian pakar sebagai masa Post-Truth (pasca kebenaran), yaitu masa di penghujung dasawarsa kedua Abad 21. Dunia memasuki konsep filosofi dan politik yang menurut filosof asal Amerika Serikat Sean Illing (2018) berarti “lenyapnya standar obyektif bersama untuk kebenaran”. Tak jelas lagi mana yang haqq dan mana yang sungguh bathil.

Jauh-jauh sebelumnya, hal yang sama pernah dirasakan oleh para sahabat ridhwanullah ‘alaihim. Sebagian orang yang baru memeluk Islam setelah wafatnya Rasululllah yang tidak melihat perjuangan para sahabat bersama Rasulullah dengan harta dan diri mereka, mengklaim bahwa derajat iman mereka sama dengan para sahabat tersebut. Padahal Allah berfirman,

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

”Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempunyai langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. Al-Hadid: 10)

 

Orang-orang yang tidak memahami perjuangan para sahabat merendahkan kedudukan mereka dan menyampaikan kata-kata yang melanggar kemuliaan mereka. Hingga akhirnya berujung pada pemutar balikkan fakta dan mengada-ada dalam urusan agama sampai hal pemerintahan. Kejadian terbunuhnya Khalifah Utsman bin ’Affan Radhiyallahu ’Anhu menjadi bukti nyata fenomena ini.

Dalam merespon fenomena ini, hendaknya kita memohon kepada Allah dengan sebuah doa ma’tsur yang dinukil dari sahabat Umar bin Khattab dan disebutkan oleh al-Bahuti al-Hanbali dalam karya beliau Syarh Muntaha al-Iradat jilid 3 halaman 497. Doanya sebagai berikut,

 

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

”Ya Allah, nampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya dan nampakkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”

 

Adapun teks lengkap dari doa ini adalah sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 hlm. 144,

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

وَلَا تَجْعلْهُ مُلْتًبِساً عَلَيْنَا فَنَضِلُّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتّقِيْنَ إِِمَامًا

“Ya Allah, nampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya dan nampakkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya dan janganlah Engkau jadikan kebatilan itu seakan kebenaran sehingga kami tersesat karenanya. Jadikanlah kami teladan bagi orang orang yang bertakwa.”

 

Doa tersebut sarat makna dan sarat manfaat. Makna doa tersebut adalah bahwa kita memohon kepada Allah agar diberikan taufik untuk mengenal kebenaran dan pendapat yang benar dalam semua permasalahan yang diperselisihkan oleh banyak orang dan berbagai hal baru yang kita alami dalam kehidupan kita. Serta memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk mengikuti kebenaran dan tegar memegangi kebenaran. Kita juga memohon kepada Allah agar diberikan taufik untuk melihat kebatilan sebagai kebatilan dan kemampuan untuk menjauhinya. Seseorang penyair arab berkat,

عَرَفْتُ الشَّــرَّ لَا       لِلشَّـرِّ لَكـِنْ لِتَوَقِّيْهِ

وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشَّرَّ    مِنَ النَّاسِ يَقَـعْ فِيْهِ

Aku mengenal kejelekan bukan untuk mempraktekannya akan tetapi untuk menjaga diri darinya. Siapa saja yang tidak mengenal kejelekan maka dia akan terjerumus ke dalamnya.

Hadirin rahimakumullah,

Allah pun memerintahkan kita semua untuk memohon hidayah untuk meniti jalan yang lurus dalam setiap salat yang kita kerjakan dengan mengatakan Ihdinash Shiratal Mustaqim.”

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam salah satu doa iftitah salat malam, Nabi juga berdoa yang artinya “Ya Allah, Rabb bagi Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui hal yang ghaib dan yang nampak, engkaulah yang menetapkan keputusan diantara para hamba dalam berbagai hal yang mereka perselisihkan, berilah aku petunjuk untuk mengetahui kebenaran dalam hal hal yang diperselisihkan dengan izin-Mu sesungguhnya Engkau itu memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki untuk menuju jalan yang lurus”. (H.r. Muslim No. 770).

 

Dalam sebuah Hadits Qudsi, dari Abu Dzar, Rasulullah bersabda, Allah berfirman:

يَا عِبَادِيْ كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتَهُ فَاسْتَهْدُوْنِيْ أَهْدِكُمْ…

Wahai hamba hambaku semua kalian adalah sesat kecuali yang Kuberi petunjuk maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberi hidayah kepada kalian.” (H.r. Muslim No. 2577)

 

Hadirin rahimakumullah,

Mari kita selalu membaca doa ini setiap hari dan meng-istiqamahkannya. Agar terkabul doa kita, hendaknya kita juga berusaha merealisasikannya dalam langkah kita. Bersatulah bersama Ahlul Haqq dan menjauhlah dari Ahlul Bathil. Berjuanglah demi tegaknya kebenaran bukan malah membela kemungkaran. Jadilah bagian dari Hizbullah, bukan menjadi bagian dari Hizbusy Syaithan.

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 200).

ثَبَّتَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى حَتَّى نَلْقَاه. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْن، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيْئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوْه، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.

أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْه، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ أَجْمَعِيْن.

أَمَّا بَعْد؛

((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)).

اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ، سَيِّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلأَخِرِيْنَ، وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اَللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُسْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْن.

اللّهُمّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وارْزُقْنا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِساً عَلَيْنَا فَنَضِلّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

رَبّنَا اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنَا وَبَنِيْنَا أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنام

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَداً ءَامِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ

رَبَّنا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيْم.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

أَقِيْمُوا الصَّلاَة…

 

1 thought on “Naskah Khutbah Jumat 29 Oktober 2021 Edisi 277, Ikadi DIY: MENGIKUTI KEBENARAN DAN MENJAUHI KEBATILAN”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *