IkadiDIY.com

Naskah Khutbah Jumat 31 Desember 2021 Edisi 286, Ikadi DIY: MERENUNGKAN KEMBALI MAKNA AL-INSAN

MERENUNGKAN KEMBALI MAKNA AL-INSAN

Oleh: Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H

(PW Ikadi D.I. Yogyakarta)

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

Download MS Word Materi Khutbah Jumat Ikadi klik dibawah ini:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِيْن، ثُمَّ جَعَلَهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَكِيْن، ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُوْحِهِ، فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنَ الْخَالِقِيْن.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، رَبُّ الْعَرْشِ الْقَوِيِّ الْمَتِيْن، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، سَيِّدَ الْأَنْبِيَاءِ وَقَائِدَ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْن.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ  بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّين.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهاَ الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاسْتَمْسِكُوْا بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى، قَالَ تَعَالىَ: «يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ»

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada penghujung tahun 2021 ini, seharusnya kita merenungkan kembali hakikat diri kita. Ada sebuah ungkapan: “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Islam memandang manusia (al-Insân) sebagai segenggam tanah dan tipuan ruh dari Allah Swt. Keduanya saling terikat, saling menggenggam, dan saling berinteraksi, kemudian membentuk entitas ketauhidan. Allah Swt. berfirman:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ ۞ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepada-Nya. (Q.s. Shad: 71-72)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Itulah penciptaan manusia; bermula dari segenggam tanah, kemudian ditiupkan ruh, lalu keduanya menyatu sempurna, saling terikat, dan terjalin interaksi antara satu dengan lainnya sehingga akhirnya terbentuklah manusia yang kita kenal.

Ia bukan segenggam tanah murni, sebagaimana sebelum ditiupkannya ruh. Bukan pula ruh yang terbebas dari segenggam tanah. Namun, keduanya berkumpul dalam satuan yang saling terikat. Masing-masing memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Keduanya sangat berbeda.

Ketika syahwat bergelora dan tidak terkontrol, maka ia lebih mendekati unsur tanah. Sebab, ia berhubungan dengan jasad; lebih dominan dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya. Akan tetapi, ia juga bukan sekadar badan layaknya hewan. Sebab, sesungguhnya manusia memiliki kemampuan berpikir, berkeinginan, dan memilih. Dan, kemampuan ini tidak dilakukan dan dimiliki oleh hewan. 

Ketika bergetar dan bercahaya, maka ia lebih dekat ke unsur tiupan ruh. Sebab, ia bergerak dengan ruhnya menuju alam nyata yang terbatas. Hanya saja, ia bukanlah ruh murni layaknya malaikat. Ia memiliki jasad yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi atau keberadaannya. 

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Perhatikanlah masa paling agung yang dikenal manusia sepanjang sejarah bumi, yaitu ketika diturunkannya wahyu kepada Rasulullah saw. Apakah ketika itu beliau adalah ruh murni yang mampu bersalaman dengan Jibril dan lalu menerima wahyu? Jawabannya: Tidak! Ketika Rasulullah saw. menerima wahyu dari Malaikat Jibril, beliau menerimanya dengan ruh dan jasad sekaligus. Bukan hanya ruhnya yang bertemu Jibril, tetapi  juga sekaligus jasadnya. Ini menunjukkan bahwa kedua unsur ini tidak dapat  dipisahkan.

Mari kita simak firman Allah Swt. berikut ini.

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ ۞ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ۞ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Q.s. al-Qiyamah: 16-18).

Akal bergerak. Lisan bergerak. Jiwa pun terlibat. Itulah kenapa, Rasulullah saw. merasa khawatir jika ada hafalan al-Quran yang dimilikinya luput. Kemudian Allah Swt. menenangkan beliau bahwa tidak akan ada yang luput. Sebab, Allah Swt. sendiri menjamin wahyu tersebut akan dijaga, dikumpulkan, dan senantiasa dibaca.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Inilah manusia (al-Insân) dengan kedua unsurnya; segenggam tanah dan tiupan ruh. Setiap usaha untuk menafsirkan salah satu unsurnya tanpa melibatkan unsur lainnya, akan berujung pada kegagalan. Melepaskan entitas manusia dari unsur ruh dan unsur tanah membawa pada penyimpangan dalam memahami dan berinteraksi dengannya. 

Pandangan yang salah, selalu menafsirkan manusia (al-Insân), baik teori maupun praktik atau kedua-keduanya, dengan salah satu sisinya saja, atau dominan satu sisi dan meminimalisir sisi lainnya. Kaum materialisme, yakni mereka yang mendasarkan hidup pada materi di atas segala hal, mengunggulkan unsur jasad dan materi dan mengabaikan unsur ruh. Mereka lalu menjadikan diri mereka bebas menikmati segala bentuk syahwat, kenikmatan, dan materi. Akibatnya, bangunan materi itu kosong dari percikan cahaya iman.

Kaum ruhaniyah/batiniyah, mengunggulkan unsur ruh dan mengabaikan jasad. Mereka menindasnya dan merendahkannya. Bahkan, sebagian berusaha menyiksa dan memenjarakannya, agar bisa melambungkan ruh. Ini adalah adalah pemahaman yang keliru. Sikap ini dilakukan para pendeta. Mereka abai memakmurkan bumi, tidak mau menjalankan tugas pemimpin yang ada di pundak setiap anak manusia.

Sementara itu dalam Islam, manusia diberikan tugas penting, sebagaimana firman Allah Swt.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Q.s. Al-Baqarah: 30).

Islam memuliakan manusia dan mengajarkan mereka al-bayân.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.s. al-Isra’: 70)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tugas manusia dalam Islam, bukan sekadar makan dan minum, seperti halnya pada binatang. Juga bukan sekadar memproduksi materi. Manusia adalah khalifah di muka bumi. Ia bertugas memakmurkannya, menegakkan keadilan, dan meninggikan ruh. Tugasnya adalah ibadah dengan makna yang menyeluruh (komprehensif), akidah yang benar, menunaikan syiar-syiar agama dengan baik, dan bersemangat menjalankan seluruh unsur kehidupan, agar dunia ini bisa tegak sebagaimana seharusnya.

Dalam al-Quran dijelaskan:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۞ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۞ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۞ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.s. Al-Syam: 7-10).

Seorang manusia tidak akan mendapatkan keistikamahannya jikalau tidak ada upaya untuk mensinergikan dan menyelaraskan antara ruh dan jasad. Ia harus mampu menerima jiwanya dan menyempurnakan semua keutamaanya dengan menyertakan kedua unsurnya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالِّذكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم

 

 Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشْهَدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلٰى رِضْوَانِه.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَأَطِيْعُوْهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى.

ثُمَّ صَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْفَضْلِ الْكَبِيْر. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ:

«إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً»

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَـجِيْد، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعَيْن، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنـِّكَ وَكَرِمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات.

اللّٰهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُورِنَا.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ، وَاْلوَبَاءَ، وَالزَّلاَزِلَ، وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَا خآصَّة، وَسَائِرِ بِلاَدِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّء الْأَسْقَامِ.

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَة، وَالْمُعَافَاةِ الدَّائِمَة، فِي دِيْنِنَا وَدُنْيَاناَ وَأَهْلِنَا وَمَالِناَ.

اللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

والْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

أَقِيْمُوا الصَّلَاة.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *